Surabaya, Jamkesnews – Tidak ada manusia yang diciptakan sempurna, semua pasti memiliki keterbatasan. Muhammad Choirul Umam (26) adalah salah satu dari sekian banyak anak berkebutuhan khusus yang terlahir dari keluarga kurang mampu. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki kelainan dari sebagian besar anak normal berdasarkan ciri fisik, mental, emosional, perilaku, serta kemampuan dalam berkomunikasi dan peranannya dalam bidang sosial.

“Sejak kecil anak saya sudah sering sakit. Biasanya kejang – kejang, panas tinggi, demam dan lemah lesu. Dulu sebelum ada BPJS Kesehatan, kalau sakit waktu tidak punya uang ya tidak berani kemana – mana,” ungkap ibu Choirul, Siti Nur Indahyati.

Sejak adanya program JKN – KIS, Choirul dan keluarganya yang merupakan warga Kelurahan Medokan Semampir Kota Surabaya bisa sedikit bernafas lega. Ia dan keluarga didaftarkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sebagai peserta JKN – KIS untuk segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iuran setiap bulannya dibayarkan oleh Pemkot Surabaya.

“Sudah berjalan hampir empat tahun ini, kartu dari BPJS Kesehatan selalu jadi andalan saat hendak berobat. Ketika anak saya sakit, biasanya langsung saya bawa ke Puskesmas Keputih, tempat kami sekeluarga terdaftar untuk mendapatkan pelayanan,” ujar Indah.

Indah mengaku selalu dilayani dengan baik dan tidak pernah sekalipun dipungut biaya. Semuanya gratis. Tidak hanya untuk Choirul, namun ia dan suami serta anak – anaknya yang lain juga mengalami hal yang sama ketika menggunakan fasilitas dari program JKN – KIS.

“Beda dengan dulu, meskipun tidak punya uang, kalau sakit ya berani saja memeriksakan diri. Berbekal kartu BPJS Kesehatan ini. Tidak pernah merasa khawatir tentang biaya, jadi lebih percaya diri karena yakin BPJS Kesehatan akan selalu ada ketika kami butuh perawatan,” tutur Indah.

Perempuan yang memiliki empat orang anak ini menerangkan, keadaan Choirul yang memiliki kekurangan kemampuan berinteraksi dengan orang-orang normal disekitarnya, juga keterbatasan fisik yang selama ini ia miliki, sehingga memerlukan uluran tangan dan perhatian lebih untuk memaksimalkan potensi yang ia miliki. Karena sesungguhnya keterbatasan secara fisik itu merupakan anugerah yang diberikan Tuhan.

“Kami berharap program mulia ini akan terus ada dan membantu keluarga berpenghasilan rendah seperti kami. Hingga suatu saat sarana dan prasarana untuk anak – anak berkebutuhan khusus seperti Choirul akan mudah dijangkau. Karena hal ini sangat penting bagi proses tumbuh kembang serta aktivitas sehari – harinya, sehingga pada akhirnya merekapun dapat menunjukkan kelebihan yang ada dibalik keterbatasan fisik mereka,” tutup Indah. (ar/ws)