Pasuruan, Jamkesnews - Kegelisahan luar biasa pernah dirasakan Mudrikah (45) saat harus dilarikan ke rumah sakit lantaran air ketubannya pecah di tengah perjalanan mudik. Kejadian ini bermula saat dirinya memutuskan pulang kampung ke Tulungagung demi menyiapkan kelahiran sang buah hati di sana. Sayang, impian yang sudah ia rencanakan bareng suami harus pupus di tengah jalan lantaran menemui kendala yang tak mereka sangka.

“Kebetulan mudiknya lewat Malang, pas sampai Kepanjen tiba-tiba air ketuban saya pecah. Kondisinya memang sudah mendekati hari kelahiran. Gak ada pikiran sampai punya firasat apaapun. Pinginnya waktu cuti sudah di sana (Tulungagung), tapi Allah punya kehendak lain,” kenang Mudrikah.

Tak berselang lama, ia mendapat pertolongan menuju Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Hasta Husada Kepanjen. Beruntung semua persyaratan yang diperlukan sudah ia siapkan sebelum perjalanan mudik. Hati yang sebelumnya gelisah kini perlahan merasakan tenang. Mudrikah hanya menunggu persetujuan suami untuk selanjutnya dilakukan tindakan operasi.

“Saya telepon suami kalau saya masuk rumah sakit. Kagetnya bukan main karena memang kejadiannya mendadak. Setelah tenang, saya kabarkan soal keperluan operasi. Malamnya suami saya datang dan menandatangani persetujuan operasi,” ungkapnya.

Dalam benak hati Mudrikah tak lagi memikirkan soal biaya. Konsentrasinya terpecah lantaran dirinya sedang menunggu giliran operasi. Namun, keberadaan suami turut memberinya ketenangan. Tepat tengah malam sang buah hati lahir dengan selamat. Sontak, tangisan haru mengubah kegelisahan mereka malam itu.

“Lega sekali operasinya lancar. Sakitnya seolah hilang karena dengar tangisan putri saya. Ujian hari itu Allah tutup dengan kebahagiaan. Bersyukur juga karena suami menemani. Kalau diingat lagi seperti sulit, tapi memang banyak sekali pertolongan,” bebernya.

Menjelang kepulangan, ibu 3 anak ini mengaku kaget dengan nihilnya biaya yang ditagihkan. Ia tak menyangka jika berkas yang disiapkan menjadi amat berarti dalam kondisi genting. Mudrikah lega lantaran Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang ia miliki jadi penyelamat dirinya dan sang buah hati. Pelayanan rumah sakit yang ramah turut memberi kesan positif bagi Mudrikah dan suami.  

“Pelayanannya bagus. Dari dokter sampai perawat semuanya ramah. Awal masuk juga mudah, gak ada masalah sedikitpun. Lama dirawat sekitar 4 hari dan kamar yang saya dapat sesuai dengan kelas yang saya ikuti,” terang wanita asal Sukorejo-Pasuruan ini.

Lebih lanjut, Mudrikah menambahkan jika dirinya masih terbantu hingga 2 kali rawat jalan. Ia turut mengapresiasi program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dinilai bermanfaat dalam situasi darurat.

“Saya merasakan sekali kemudahannya. Meskipun fasilitas kesehatan (tingkat pertama) saya di Pasuruan tapi gak jadi masalah pas harus cari rumah sakit di sana (Kepanjen, red). Sangat puas sekali dan pelayanannya juga rapi,” pungkasnya.

Kini, Mudrikah tengah menikmati kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Kejadian setahun silam memberikan warna dan pengalaman tersendiri bagi hidupnya. Istri dari seorang karyawan PT Indofood Sukses Makmur Tbk Pasuruan ini turut membagikan kisahnya dan mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari program JKN-KIS. Segala kemudahan yang diperoleh jadi bukti dirinya untuk meyakinkan banyak orang.

“Kebetulan sudah 10 tahun saya terdaftar jadi peserta BPJS (Kesehatan) karena manfaat suami. Dari kejadian kemarin banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Pinginnya berbagi cerita biar makin banyak orang yang sadar manfaat dan terjaga bila sewaktu-waktu kena musibah,” tutupnya. (ar/vn)