Cibinong, Jamkesnews – BPJS Kesehatan sebagai badan yang menyelenggarakan Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) berkomitmen memberikan pelayanan prima yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Di tengah pemberitaan yang simpang siur terkait pelayanan, Cherly warga Jatisampurna yang terdaftar dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) menampik berita negatif tersebut.

Ibu dengan 3 orang anak ini mengatakan pelayanan JKN-KIS yang ia rasakan bertolak belakang dengan apa yang ramai diperbincangkan masyarakat luas. Bukan tanpa alasan dirinya mengungkapkan hal tersebut. Pasalanya, ia langsung merasakan sendiri pelayanan dengan menggunakan kartu JKN-KIS saat sang anak mengalami diare yang mengharuskan untuk mendapat perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) salah satu rumah sakit menggunakan pelayanan JKN-KIS.

 

“Anak saya saat umur setahun sakit diare, muntah-muntah, sudah lemes karena kekurangan cairan. Akhirnya saya bawa ke IGD rumah sakit dekat rumah dan langsung dirawat inap. Berita simpang siur bilang kalau menggunakan kartu KIS akan ditolak di rumah sakit atau dipersulit administrasinya. Tapi semuanya bertolak belakang, saya sudah mengalaminya sendiri di rumah sakit walaupun saya sudah menyiapkan dana pribadi namun tidak ada iuran yang ditagihkan," ungkap Cherly mengawali ceritanya kepada Jamkesnews, Jumat (22/01).

Bukan hanya itu, Cherly juga direkomendasi oleh petugas administrasi rumah sakit untuk menggunakan jaminan JKN-KIS utnuk menjamin pembiayaan rawat inap sang anak. berdasar dari apa yang dirasakan, Cherly mengakui bahwa Program JKN-KIS sangat memberikan kemudahan dan membantu peserta untuk mendapatkan layanan kesehatan tanpa khawatir memikirkan beban biaya yang timbul atas perawatan tersebut.

"Pihak administrasi rumah sakit menyarankan untuk menggunakan jaminan JKN-KIS tersebut. Saat itu saya terdaftar di rawat inap kelas 2 (dua) sesuai hak saya dan keluarga, namun pihak rumah sakit menjelaskan kamar tersebut penuh jadi diberikan pilihan untuk ditempatkan di kelas lebih rendah satu tingkat. Alhamdulillah, pelayanan yang diterima tidak dibedakan kunjungan dokter, obat-obatan semua dikasih sesuai indikasi medis,” ujar Cherly.

Selama terdaftar sebagai peserta dari Program JKN-KIS, Cherly berpendapat tidak ada pengalaman yang tidak mengenakan. Semua sudah berjalan sebagaimana prosedur yang ia ketahui terkait Program JKN-KIS. Kontrol kehamilan anak ketiganya pun rutin dilakukan sampai melahirkan dengan memanfaatkan jaminan kesehatan. Walaupun banyak perbedaan pengalaman masing-masing peserta di Indonesia, tapi ia berpendapat berdasarkan pengalaman pribadinya terkait pelayanan dengan jaminan Program JKN-KIS.

“Alhamdulillah saat dibutuhkan kepesertaan di Program JKN-KIS sangat bermanfaat selain sebagai perlindungan jaminan kesehatan saya dan keluarga program ini dapat juga sebagai ladang amal. Karena iuran yang saya bayarkan otomatis dapat digunakan untuk mereka yang sedang sakit dan butuh pelayanan kesehatan. Tidak menampik mau ada berita simpang siur yang beredar di luar sana, tapi tetap program ini dibutuhkan oleh banyak orang. Dan ketika sudah merasakan mendapatkan pengalaman pelayanan langsung membuktikan berita negatif itu tidak benar adanya,” tutup Cherly. (sy)