Samarinda, Jamkesnews – Suratmi (65)  dan suaminya Rusli (71) sudah tak muda lagi, namun di masa senjanya kian banyak penyakit menghampiri. Keduanya tetap bertahan hidup dengan menjadi penjual makanan di sebuah warung kecil di bilangan jalan Sentosa Kota Tepian Samarinda.

Tim Jamkesnews coba memesan nasi rawon yang menjadi menu andalan di warung milik Suratmi, namun karena sudah agak siang nasi rawonnya telah ludes dipesan para langganannya, bahkan beberapa pelanggannya harus kecewa dan balik arah karena menu andalan di warung itu telah habis. Akhirnya kami memesan nasi campur, rasanya khas masakan jawa.

Mengawali kisahnya, Suratmi menceritakan tentang kondisi fisiknya yang tak seperti dulu lagi, begitu juga suami tercintanya di usia senjanya banyak dihampiri oleh penyakit, dan baru-baru ini suaminya baru saja menjalani operasi pemasangan ring jantung yang ke kedua kalinya. Untungnya semua biaya pengobatan ditanggung oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Program JKN-KIS benar-benar sangat membantu Suratmi dan suaminya. Ia dan keluarga telah terdaftar sebagai peserta program JKN-KIS dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) sejak tahun 2014, ia mengaku telah banyak memanfaatkan untuk berobat.

“Keluarga saya sudah sering pakai BPJS untuk berobat, ya opname, ya operasi, tapi yang paling banyak pakai itu bapaknya nggak tau lagi udah berapa puluh kali dipakai untuk berobat, terakhir ini bulan Juni kemarin bapaknya baru pasang ring jantung yang kedua, kalo nggak salah sudah dipasang empat ring,” tutur Suratmi pada Kamis (30/07).

Menurut Suratmi jauh sebelum menderita penyakit jantung suaminya juga menderita usus buntu, penyakit paru-paru dan asma. “Awal sakitnya operasi usus buntu terus ya sampai sekarang itu nambah penyakitnya ya sing paru-paru, asma dan nambah sakit jantung. Mbah laki itu saat berobat penyakit paru-paru belum tahu kalau punya sakit jantung, sekalinya pas diperiksa eh ada sakit jantung,” papar Suratmi.

Manfaat program JKN-KIS tidak hanya dirasakan oleh suaminya saja, Suratmi juga telah merasakan manfaatnya. Sampai saat ini ia rutin menjalani fisioterapi dua kali dalam seminggu untuk meringankan penyakit syaraf kejepit yang telah lama ia derita.

“Kalau saya BPJS-nya untuk opname karena sakit pinggang yang nggak sembuh-sembuh, di rumah sakit ya di-rontgen, diapakan itu dimasukkan ke lubang bundar (CT Scan) baru kelihatan ada yang sakit lima titik di pinggang dan harus operasi, tapi aku takut, jadinya disuruh aja rajin terapi seminggu dua kali terapi. Kemungkinan ini akibat dulu pernah jatuh tahun 1988 di jawa, sekarang sudah tua baru timbul penyakitnya,” terang nenek asal Kota Jombang Jawa Timur ini.    

Jujur Suratmi tak sanggup apabila harus menanggung biasa pengoban dirinya dan suami. “Ya nggak sanggup nak kalau harus pakai biaya sendiri, mungkin pasrah aja karo seng kuwoso (sama Yang Kuasa) kalau sudah nggak mampu lagi, jadi dengan adanya BPJS ini sangat-sangat membantu sekali,” tutupnya. (KA/ej)