07 Jul 2020
  |  
Dilihat : 4855 kali

Fatimawati, Pasien Penyakit Jantung yang Terbantu Dengan JKN-KIS

Narasumber : Fatimawati (56), Peserta PBPU Kelas II

Sintang, Jamkesnews - Penyakit jantung masih menempati posisi teratas sebagai penyebab kematian di seluruh dunia. Serangan jantung juga bisa datang kapan saja ketika adanya penyempitan atau tersumbatnya arteri koroner yang memasok darah ke otot jantung. Agar tidak sampai membahayakan nyawa, tindakan yang sering dilakukan yaitu memasang ring (stent) untuk kembali melancarkan aliran darah ke bagian jantung. Namun biaya pemasangan ring tidaklah murah. Apalagi kalau harus memakai lebih dari satu ring, biayanya bisa mencapai ratusan juta.

Di era Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), mahalnya biaya pemasangan ring tidak lagi menjadi hambatan. Dengan prinsip gotong royong yang dijalankan program ini, pasien penyakit jantung kini bisa mendapatkan pengobatan yang lebih komprehensif untuk kesembuhan penyakitnya.

Seperti yang dialami Fatimawati (56) merupakan peserta JKN-KIS asal Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang ini sudah terindikasi mengalami penyakit jantung sejak tahun 2018. Awal tahun ini, ia baru saja menjalani operasi pemasangan ring yang pertama. September 2020 mendatang, rencananya akan dilakukan pemasangan ring kedua lantaran ada beberapa bagian arteri yang mengalami penyempitan.

“Alhamdulillah, saya bisa operasi pemasangan ring tanpa dikenakan biaya. Andai tidak ada Program JKN-KIS dan bantuan dari Pemerintah, entah bagaimana hidup saja. Apalagi di masa tua saat ini dan tidak ada penghasilan,” ujar Fatimawati

Sebelum dilakukannya operasi pemasangan ring, Fatimawati bercerita bahwa ia sering mengalami kesulitan dalam mengatur nafas, bahkan saat melakukan aktifitas ringan seperti berjalan kaki. Ketika dilakukan pemeriksaan jantung di rumah sakit, rupanya sudah terjadi penyempitan pembuluh darah koroner pada bagian jantungnya. Kondisi ini membuat aliran darah ke jantung jadi terhambat. Bila tidak segera dilakukan tindakan, nyawa Fatimawati bisa tak tertolong.

“Untuk berjalan 100 meter saja, saya sampai harus berhenti tiga kali. Ngos-ngosan seperti habis lari. Padahal hanya jalan kaki saja. Saat diperiksa, ternyata kondisi penyempitannya sudah parah. Dokter menyarankan untuk segera pasang ring, biayanya sekitar Rp 75 juta. Awalnya saya tidak mau karena memang tidak ada uang. Tapi dokter bilang kalau biaya pemasangan ring yang mahal itu juga ditanggung BPJS Kesehatan. Saya lega sekali mendengarnya waktu itu dan terus bersyukur kepada Allah,” bebernya.

Setelah operasi pemasang ring yang pertama ini dilakukan, Fatimawati merasa kondisinya kini sudah lebih membaik. Namun belum banyak yang bisa dilakukan.

“Sehabis operasi, dada rasanya panas sekali. Setiap makan juga selalu mual, keluar lagi. Dokter bilang itu reaksi yang wajar karena ada benda asing di dalam tubuh. Tapi dua minggu setelah operasi, kondisinya mulai normal. Pelan-pelan mulai dibiasakan lagi untuk jalan ke luar rumah. Mudah-mudahan saja ke depannya semakin membaik,” tuturnya. 

Sebelum mengakhiri wawancara, tak lupa Fatimawati mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah karena telah menghadirkan BPJS kesehatan yang bertanggung jawab mengelola Program JKN-KIS. Ia berharap, program yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan itu terus hadir bagi masyarakat, khususnya Fatimawati untuk menjamin kondisi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia(FR/aa)