06 Feb 2020
  |  
Dilihat : 513 kali

Finger print Permudah Petugas RSUD Bulukumba Layani Cuci Darah

Narasumber : Sukma, Kepala Ruangan Unit Hemodialisis RSUD Sulthan H. Dg Radja.

Bulukumba, Jamkesnews – Di era Jaminan Kesehatan Nasional, tindakan hemodialisia (cuci darah) semakin diperlukan bagi peserta dengan gangguan atau kerusakan ginjal kronis. Tindakan tersebut mengharuskan pasien untuk menjalani tindakan pembersihan darah dari zat-zat yang tidak berguna melalui proses di luar tubuh dengan menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis.

Keterbatasan mesin dialisis di daerah yang acapkali berbanding terbalik dengan banyaknya pasien hemodialisa, berpotensi mengganggu pelayanan hemodialisis di sebuah rumah sakit dan berujung pada ketidakpuasan pasien peserta JKN-KIS. Berangkat dari hal tersebut, inovasi berbasis tekonologi harus diterapkan untuk menyiasati berbagai keterbatasan, serta untuk semakin mempermudah dan meningkatkan kualitas layanan untuk pasien dan peserta JKN-KIS.

Salah satu inovasi tersebut adalah teknologi finger print yang mulai diberlakukan di RSUD Sulthan Dg Radja Kabupaten Bulukumba. Di Wilayah kerja BPJS Kesehatan kantor Cabang Bulukumba, RSUD Sulthan Dg Radja merupakan satu-satunya rumah sakit yang telah memiliki unit hemodialisis, sehingga menjadi rujukan hemodialisa bagi peserta JKN-KIS dari kabupaten Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar.

Hal tersebut membuat unit hemodialisis di RSUD Sulthan Dg Radja cukup padat sehingga diperlukan teknologi yang cukup memadai untuk membantu mempersingkat proses administrasi. Seperti yang dituturkan oleh Sukma selaku Kepala Ruangan Unit Hemodialisis RSUD Sulthan H. Dg Radja.

”Saya sudah hampir 3 tahun bertugas di unit hemodialisa ini, jadi tahu betul bagaimana sulitnya proses verifikasi sebelum adanya teknologi fingerprint diterapkan di rumah sakit,” ujar Sukma.

Sebagai kepala ruangan, ia merasakan sekali perbedaan kondisi dari sebelum dan sesudah penerapan teknologi fingerprint di unit yang dipimpinnya.

“Waktu untuk kegiatan administrasi sekarang jauh lebih singkat, tidak hanya itu untuk proses verifikasi pasien sendiri juga lebih mudah dan pasti, sehingga kami lebih tenang dalam bertugas, karena data pasien sudah dipastikan,” ujarnya.

Ia mengatakan rata-rata terjadi peningkatan untuk pasien cuci darah setiap tahunnya, jadi memang harus menggunakan teknologi agar mempermudah proses pelayanan.

“Dengan adanya sistem finger print ini, waktu pengurusan administrasi kami terpangkas, sehingga kami bisa mengembangkan layanan, dengan membuat penjadwalan yang lebih baik dan aktif menghubungi peserta yang terjadwal cuci darah sehingga proses administrasi tidak hanya menjadi lebih mudah, tapi waktu tunggu pasien juga lebih pasti, karena sudah ada jadwal yang tertib dan rapi,” sambungnya.

Ia juga mengapresiasi BPJS Kesehatan terkait pelayanan cuci darah, saat ini rujukan pasien cuci darah tidak harus sebulan sekali, tetapi per tiga bulan sekali. Menurut Sukma, ini sangat memudahkan peserta JKN-KIS dalam mendapatkan pelayanan.