21 Jan 2020
  |  
Dilihat : 19443 kali

Pakai Sidik Jari, Winarti Tak Repot Urus Administrasi

Narasumber : Sueb (41); Suami Winarti (Pasien Cuci Darah)

Pasuruan, Jamkesnews - Tahun 2019 bisa jadi tahun terberat untuk Winarti (40) sepanjang hidupnya. Betapa tidak, ibu satu anak ini mengaku terpukul usai dokter memvonisnya gagal ginjal. Hingga memasuki awal tahun 2020, Winarti sudah 20 kali melakukan cuci darah. Semua ia lakukan di RSUD dr. Saiful Anwar Malang sesuai rujukan yang didapat. Namun Ia bersyukur telah menjadi bagian dari Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Apalagi di awal tahun 2020 ini, BPJS Kesehatan meningkatkan kemudahan bagi pasien cuci darah dengan penerapan sistem pemindai sidik jari.

“Cuci darahnya sudah lima bulan sekarang. Jadwalnya satu minggu sekali. Kebetulan saya dirujuk ke Saiful Anwar Malang kalau cuci darah. Gak tahu lagi kalau gak pake BPJS ini sudah habis berapa biayanya. Minggu kemarin perawat di sana sempat bilang kalau persyaratan sekarang sudah pakai sidik jari. Jadi gak pake surat-surat (rujukan) begitu. Yang jelas saya bersyukur dan ingin sekali sembuh,” ungkap Winarti, Senin (20/01).

Saat kondisi Winarti naik turun, ia sering dibawa ke rumah sakit. Hingga hari ini, ia sudah tiga hari berada di RSI Masyithoh Bangil. Menurut suami Winarti, Sueb (41), cerita ini berawal ketika Winarti mengeluhkan sesak nafas, nyeri punggung, hingga sempat mengalami muntah sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

“Di rumah waktu itu bilang kalau dadanya sakit terus susah nafas. Sesekali juga sambat punggunggnya nyeri. Sampai akhirnya istri saya ini muntah-muntah. Saya langsung bawa dia ke Masyithoh sini. Ini yang rawat inap yang kedua kalinya di sini,” beber Sueb menceritakan kisah istrinya selama menjalani perawatan.

Tidak hanya gagal ginjal, Sueb juga menceritakan bahwa Winarti sempat terserang penyakit paru paru dan efek paska penyembuhannya masih mengganggu kondisi Winarti.

“Kalau sakit istri saya dari tahun kemarin. Ini sudah yang kelima kali mungkin masuk rumah sakit. Sedih sekali apalagi lihat istri saya sering lemas. Yang dikeluhkan sekarang sesak nafas karena dulunya juga pernah sakit paru-paru sebelum gagal ginjal,” cerita Sueb.

Dibalik kondisi istrinya tersebut, Sueb mengaku puas dengan segala tindakan yang petugas rumah sakit berikan. Ia menilai mereka begitu cermat dengan perkembangan kondisi sang istri. Selain itu, ia tak menemui tindakan diskriminasi sebagai peserta JKN-KIS. Bersama sang istri, Sueb mengharap keberlangsungan dari Program JKN-KIS. Menurutnya, sudah banyak sekali kebaikan yang sudah nyata dirasakan.

“Alhamdulillah, gak ada yang susah (pelayanan) dari awal istri saya dirawat. Bahkan untuk cuci darah pun jadwalnya juga teratur. Gak tahu kalau gak ada BPJS, sudah bagaiamana ini istri saya. Apalagi saya tahu kalau biaya cuci darah ini mahal sekali kan. Saya hanya bersyukur sudah diberi jalan sama Allah, saya berharap istri saya cepat sembuh dan BPJS ini ada terus,” pungkasnya. (ar/vn)