Surabaya, Jamkesnews - Menurut data International Diabetes Federation (IDF) Indonesia berada di peringkat 6 negara dengan penderita penyakit diabetes terbanyak. Diabetes Melitus (DM) secara umum adalah dimana kondisi normal glukosa sebagai sumber energi utama bagi sel-sel tubuh berlebih kemudian mengakibatkan atau memicu penyakit gula darah/diabetes.

Vonis dokter mengatakan Musriah mengidap DM sejak puluhan tahun lalu. Sejak itu pula ia rutin ke rumah sakit maupun klinik di Surabaya untuk memeriksakan kesehatannya. Kondisinya saat ini sangat memprihatinkan, berjalanpun dirasakan berat, untuk perpindahan dari berdiri ke posisi duduk, ia harus benar-benar memperhatikan waktu yang tepat agar tidak terjungkal.

"Saya di vonis oleh dokter yang memeriksa saya, katanya saya ini sakit diabet," ujar Musriah saat ditemui di rumahnya, Kamis (05/12).

Musriah (69) adalah warga Mulyorejo Surabaya yang saat ini terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Kota Surabaya. Sebelumnya dirinya mendaftar menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) segmen Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri. Karena tidak mampu membayar, Musriah kemudian di bantu oleh perangkat desa dan staff kelurahan Mulyorejo untuk kemudian didaftarkan sebagai peserta PBI untuk Kota Surabaya.

Sebelumnya wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini memeriksakan kesehatannya menggunakan biaya pribadi. Baik di puskesmas atau rumah sakit yang sering ia kunjungi, semua biaya administrasi pengobatan dibayarnya sendiri.

"Geh, kulo bayar piyambak damel prikso (ya, saya bayar sendiri untuk periksa - red). Sejak tahun 1985 saya sudah sakit-sakitan. Cek kolesterol, tensi darah, cek gula darah dan masih banyak lagi. Rutin hal ini saya lakukan, bisa seminggu satu sampai dua kali. Ya, kalau di hitung-hitung sudah banyak uang yg saya keluarkan pak untuk biaya pengobatan saya ini," ujar Musriah.

Musriah lantas menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Pemerintah Kota Surabaya. "Terutama kepada beliaunya Walikota yang sangat saya cintai, bu Risma, maturnuwun sanget bu (terimakasih banyak bu-red), terimakasih saya warga Surabaya telah di bantu biaya pengobatan saya. Tidak bisa membayangkan kalau saya harus membayar semua biaya itu dengan uang saya sendiri. Sekali lagi terimakasih bu Risma, semoga bu Risma selalu di berikan kesehatan dan selalu manfaat untuk warganya," tutup Musriah sambil menitikkan air mata. (ar/ws)