30 Jul 2020
  |  
Dilihat : 18 kali

Pendeta Robert : Program JKN-KIS Menghapus Keraguan Jemaat Ketika Sakit

Kupang, Jamkesnews - Gotong royong yang merupakan kebudayaan bangsa Indonesia merupakan mata uang yang berlaku di mana-mana. Dalam kehidupan beragama apapun, bergotong royong untuk membantu sesama merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap umatnya.

Demikian yang disampaikan oleh Pendeta Robert dalam acara penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara BPJS Kesehatan Cabang Kupang dengan Gereja Majelis Injil Timor (GMIT) Ebenhaezer Oeba pada Kamis (30/07). Dalam acara tersebut Pendeta Robert juga mengatakan bahwa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan konsep yang sangat mulia. Banyak jemaatnya yang sangat tertolong dengan keberadaan program ini.

“Selama ini jemaat kami banyak yang mengalami keraguan untuk berobat ketika ditimpa musibah berupa sakit,” ungkapnya.

Sementara pihak gereja melihat peluang program JKN-KIS yang merupakan jawaban atas keraguan tersebut. Dalam hal ini, majelis gereja merasakan negara hadir tanpa mendiskriminasikan warganya untuk memperoleh hak jaminan kesehatan. Oleh karena itu, Robert ingin memastikan bahwa para jemaatnya sudah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS yang dilakukan secara kolektif.

“Dengan menjadi peserta JKN-KIS, keraguan jemaat untuk berobat sudah terhapuskan. Kini sudah tidak ada kecemasan soal biaya pengobatan dan kesulitan mengakses layanan kesehatan. Dengan adanya JKN-KIS, kebutuhan mereka di bidang kesehatan sudah terpenuhi,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kupang Fauzi Lukman Nurdiansyah menyambut baik upaya dari majelis GMIT Ebenhaezer Oeba untuk mendaftarkan jemaatnya secara kolektif. Fauzi menyampaikan bahwa pada prinsipnya, BPJS Kesehatan Cabang Kupang siap membuka ruang diskusi jika ada informasi yang ingin ditanyakan maupun keluhan jika mengalami kendala di lapangan.

Fauzi juga menambahkan saat ini BPJS Kesehatan Cabang Kupang bekerja sama dengan Bank Sampah Mutiara Timor sebagai alternatif pembayaran iuran JKN-KIS Menggunakan sampah. Dengan potensi jemaat yang cukup banyak, peluang untuk menggunakan sampah sebagai pembayaran iuran JKN-KIS terbuka cukup lebar.

“Sampah yang dikumpulkan, selain untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar, juga dapat digunakan sebagai donasi iuran JKN,” ungkap Fauzi.

Terakhir, Robert berharap, langkahnya mendaftarkan jemaatnya sebagai peserta JKN-KIS segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) secara kolektif menjadi pilot project bagi majelis gereja yang lain. Ia juga menginginkan kerja sama yang sudah terjalin baik selama dua tahun ini bisa terus berlanjut untuk membangun masyarakat yang sehat dan memiliki kepastian untuk bisa berobat. (dh/ib)