13 Feb 2020
  |  
Dilihat : 31 kali

Fokus Tingkatkan Mutu Layanan Melalui Indikator KBK

Jakarta Utara, Jamkesnews – Di tahun 2020, salah satu fokus BPJS Kesehatan adalah pelayanan. Ujung tombak pelayanan pada Program JKN-KIS ada di fasilitas kesehatan, terutama Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan terhadap peserta JKN-KIS. Untuk itu, BPJS Kesehatan Jakarta Utara, menekankan kembali kepada FKTP di wilayahnya untuk fokus terhadap mutu layanan FKTP pada pertemuan yang dilaksanakan di Plumpang Semper, Jakarta Utara, Kamis (13/02).

“Filosofi nilai kapitasi dinaikkan adalah diharapkan ada peningkatan mutu layanan, baik dari segi kompetensi dokter, maupun dari sarana dan prasarana. Tetapi setelah dilakukan evaluasi oleh auditor, dan ada masukan dari beberapa stakeholder, hasilnya pembayaran kapitasi belum dinilai efektif karena belum ada alat ukur untuk menilai kinerja faskes, sehingga muncul penilaian KBK sejak tahun 2016,” ujar Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Utara Shanti Lestari.

Berlakunya Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja Pada FKTP digunakan sebagai acuan bagi FKTP, Dinas Kesehatan, Asosiasi FKTP, Tim KMKB, BPJS Kesehatan dan pemangku kepentingan lainnya. Indikatornya adalah Angka Kontak, Rasio Rujukan Non Spesialistik, dan Rasio Peserta Prolanis Terkendali.

“Sekarang penilaian capaian kinerja dilakukan setiap bulan berdasarkan hasil input FKTP di Aplikasi PCare. Dari sisi rujukan saat ini dinilai belum efektif dan kegiatan promotif preventif juga belum begitu efektif. Untuk rasio rujukan, ini yang sangat menjadi concern kita, karena ada 144 diagnosa yang harus diselesaikan di FKTP jadi diharapkan angka rujukannya juga menurun,” ungkap Shanti.

Pada pertemuan ini, tidak hanya untuk monitoring dan evaluasi hasil KBK FKTP, akan tetapi juga dijadikan tempat untuk berdiskusi dan sharing oleh FKTP yang nilainya sudah baik. Perwakilan Klinik Sunter Sisma Media, Mochtadi membagikan cerita kegiatan apa saja yang dilakukan di kliniknya sehingga memperoleh nilai yang baik.

“Kita menekankan kepada dokter yang mau melakukan rujukan, sebelum dirujuk pasien harus ditangani di klinik sampai tuntas. Jika ada memang harus dirujuk harus pakai TACC. Angka kontak kami tinggi karena kunjungannya lumayan setiap harinya yakni 250 peserta per hari. Dan untuk Prolanis ada 40 peserta aktif, mereka tidak hanya ikut Prolanis, peserta yang terindikasi hipertensi dan DM, kami data ulang dua minggu sekali dengan melakukan pemeriksaan gula darah rutin,” cerita Mochtadi.

Mochtadi juga mengungkapkan bahwa ia menginginkan adanya data di Pcare yang bisa mendeteksi peserta dengan diagnosa DM dan hipertensi. Sehingga FKTP dapat mengetahui pasien mana saja yang dapat diikutsertakan dalam Prolanis. (rg)