Pandemi virus corona (Covid-19) yang berdampak pada meningkatnya risiko krisis kesehatan dan ekonomi harus disikapi dengan bijak oleh masyarakat, termasuk dalam hal mengatur keuangan. Dengan kondisi perekonomian global dan Indonesia yang saat ini menghadapi tekanan, diperlukan penghitungan ulang terkait pemasukan hingga pengeluaran, agar kita dapat mengantisipasi dampak yang lebih buruk.

Pendiri Komunitas Investor Muda Jason Gozali menyampaikan, dalam mengatur keuangan, baik saat pandemi Covid-19 maupun dalam kondisi normal, yang harus dilakukan pertama kali adalah menyisihkan sebagian dari penghasilan sejak awal menerima gaji atau penghasilan, bukan sekadar menyisakan penghasilan. Ini menjadi prinsip utama yang harus dipegang.

"Setiap orang harus mengatur keuangannya sejak awal menerima pendapatan. Misalnya 50% untuk kebutuhan kita, 10% untuk asuransi, 20% untuk investasi, 10% untuk sedekat, itu sebagai contoh saja. Intinya kita melakukan penyisihan di awal bulan, bukan di akhir bulan. Tetapi kebanyakan dari kita begitu menerima gaji, kita langsung pakai saja tanpa ada catatan sama sekali. Tiba-tiba setelah dua minggu, dompet kita sudah menipis. Setelah itu baru berfikir bagaimana bertahan hidup di dua minggu ke depan. Ini yang salah, harusnya sejak awal sudah disisihkan,” tegas Jason.

 

Untuk jumlah uang yang disisihkan, menurut Jason hal ini sangat bergantung dari jumlah gaji atau penghasilan dari masing-masing orang dan juga kebutuhannya. Sebab ada yang bisa bertahan hidup dengan menggunakan 40% dari pendapatan, ada juga yang sampai 70%.

 

Perlu diingat bahwa di masa pandemi Covid-19 ini, sebagian besar orang mengalami penurunan pendapatan. Ada yang usahanya “gulung tikar”, hingga mengalami Pemutusan hubungan kerja (PHK). Sehingga dalam menggunakan uang, kita harus lebih bijak untuk menimbang antara kebutuhan dan keinginan.

 

“Kalau memang penghasilannya mepet, tidak apa-apa dari penghasilan kita 70% untuk konsumsi, 30% untuk investasi. Tetapi minimal kita harus menyisihkan setidaknya 20% dari penghasilan kita untuk investasi, lebih besar lebih baik,” imbuhnya.

 

Dikatakan Jason, pada umumnya seseorang malas mengatur keuangan jika tidak mempunyai tujuan. Karenanya, seseorang harus memastikan tujuan dan nilai dari tujuan yang ingin dicapainya agar lebih disiplin mengatur keuangan.

 

"Biasanya kita akan malas mengatur keuangan kalau kita tidak punya tujuan. Misalnya saya mau nikah lima tahun lagi, saya mau sekolahin anak saya 10 tahun lagi. Dari angka kebutuhan itu, kita tarik mundur dari sekarang berapa yang harus disisihkan setiap bulan untuk menyentuh angka kebutuhan tersebut,” kata Jason.

 

Dana Darurat

 

Bagian penting dari menyisihkan penghasilan di awal adalah untuk memenuhi kebutuhan darurat. Tanpa adanya dana darurat, kita bakal kesulitan saat membutuhkan uang dalam keadaan darurat, salah satu contoh konkretnya adalah masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi.

 

Director, Chief Investment Officer PT Jagartha Penasihat Investasi (Jagartha Advisors) Erik Argasetya mengungkapkan, berdasarkan perkiraan para ahli kesehatan, diperlukan waktu yang tidak sebentar hingga pandemi Covid-19 mereda sampai mencapai titik normal. Karenanya, masyarakat perlu mengalokasikan lebih banyak dana darurat untuk berjaga di rentang waktu sekitar tiga hingga enam bulan ke depan. 

 

“Dana darurat dapat dengan memegang cash secara langsung atau dialokasikan di tabungan, deposito atau reksa dana pasar uang,” kata Erik Argasetya.

 

Saat Tepat Berinvestasi

Bagi orang-orang yang saat ini memiliki kelebihan uang, pandemi Covid-19 sebetulnya merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi, salah satunya di instrumen saham. Apalagi di masa pandemi ini banyak saham yang harganya anjlok cukup parah atau lebuh murah dari biasanya. Sehingga ketika nanti kondisinya sudah pulih, harga sahanya bisa lebih tinggi.

"Kalau sekarang kita lagi punya uang lebih dan tidak kena PHK, saat ini kita harus investasi. Kalau bicara peluang, yang namanya krisis keuangan itu bukan kejadian yang terjadi setiap hari atau setiap tahun. Yang namanya krisis pasti kejadiannya delapan tahun sekali atau 10 tahun sekali.  Ini hal yang langka, tiba-tiba dan sesekali saja dalam jangka panjang. Jadi kalau kita beli (saham) pas krisis, peluang kita menang mestinya lebih besar daripada dalam kondisi normal,” kata Jason Gozali.

Tetapi meskipun harga properti, obligasi, dan juga saham berada di level yang lebih murah dari biasanya, Jason mengingatkan agar kita tetap teliti dalam memilih saham atau instrumen investasi. Sebab tidak semua saham akan naik kembali harganya setelah krisis ini pulih.

"Ada dua strategi utama ingin investasi di saham. Pertama, beli saja saham yang bisnisnya tidak terdampak pandemi sama-sekali. Tetapi jangan harap diskonnya banyak dan besar karena itu aman. Yang kedua, cari saham yang bisnisnya benar-benar terdampak pandemi Covid-19. Contohnya travel, properti yang punya banyak mal, ritel. Itu pasti terdampak, maka harganya jatuh luar biasa. Tinggal dipilih mana perusahaan yang terdampak itu yang diyakini setahun ke depan  asumsinya tidak ada omset, tetapi perusahaannya masih bisa bertahan. Sehingga ketika corona pulih dan mereka balik lagi, kita bisa dapat untung yang berlipat,” kata Jason.

Selain saham, instrumen investasi lainnya yang bisa menjadi pilihan adalah obligasi pemerintah, khususnya untuk yang khawatir dengan pergerakan harga saham. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan beberapa waktu lalu juga mengeluarkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, yakni Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI017 dengan kupon 6,4% per tahun.

“Menurut saya itu lumayanlah untuk yang ingin pasti-pasti saja. Apakah bisa gagal bayar? Menurut saya secara teori bisa, tapi agak kecil peluangnya untuk sebuah pemerintah gagal bayar dalam obligasi," ujar Jason.

 

Sumber: Majalah Media Info BPJS Kesehatan Ed. 89