Banyak orang bilang gaji besar, keuangan membaik. Gaji kecil pasti kurang untuk penuhi kebutuhan. Anggapan ini tak selalu benar. Menurut pakar perencanaan keuangan, Ligwina Hananto, kunci dari keuangan sehat itu juga tergantung pada pengaturan keuangan yang baik. Peribahasa lama mengatakan, jangan besar pasak daripada tiang. Peribahasa ini tidak pernah kenal tanggal kadaluarsa. Di masa apapun masih relevan.

 

Artinya seberapa besar pun pendapatan, jika pengeluaranya jauh lebih besar, maka tetap saja pendapatan atau gaji sebulan tidak akan cukup. Semoga Anda bukan tergolong orang yang besar pasak daripada tiang, ya.

 

Sebenarnya yang perlu dilakukan sangat sederhana. Jangan besar pasak daripada tiang. Bijak menggunakan uang yang ada. Sedapat mungkin pengeluaran tidak melebihi batas kemampuan. Nah untuk mengontrol dan mengendalikan keuangan, maka ada baiknya beberapa saran di bawah ini perlu menjadi bagian dari kebiasaan atau perilaku mengelola keuangan yang lebih sehat.

 

1. Menyadari kemampuan keuangan. Ini poin penting sebelum melakukan perencanaan keuangan. Tidak sedikit yang berpikir rejeki hari ini adalah hari ini, dan rejeki esok adalah milik esok hari. Uang yang ada pun dihabiskan sebelum waktunya, karena berpikir akan masuk lagi yang baru.

 

“Jangan delusi seolah kita mampu, padahal ada keterbatasan. Mengatur keuangan soal tahu diri saja kok. Apakah mau berhadapan dengan kenyataan kemampuan keuangan kita sudah sampai mana,” kata Ligwina kepada Info BPJS Kesehatan, di Jakarta.

 

2. Merencanakan Keuangan, termasuk kurangi pengeluaran yang tidak perlu. 

Bagi para karyawan kantor, salah satu momen yang paling ditunggu adalah pembagian Tunjangan Hari Raya (THR). Meski sebagai penghasilan tambahan, Anda tetap perlu memanfaatkan uang THR dengan bijak agar tidak menyebabkan kesulitan keuangan di kemudian hari.

 

Apalagi di saat Lebaran, pengeluaran lebih besar daripada biasanya. Jangan tergoda untuk membeli sesuatu yang sebenarnya sudah ada, atau tidak sangat dibutuhkan. Jangan sampai gara-gara boros, anggaran lebih sekali dalam setahun ini habis sia-sia tak berbekas. Sisihkanlah sebagian untuk ditabung. Bagi yang bukan pegawai kantoran, tetapi punya pendapatan harian atau bulanan, juga tidak jauh berbeda. Harus pintar-pintar mengelola keuangan.

 

Untuk yang sudah berkeluarga, ada lima kategori besar pengeluaran keluarga, yaitu cicilan, kebutuhan operasional rutin, menabung atau investasi, sosial, dan gaya hidup (lifestyle). Asal bisa mengatur lima pos pengeluaran ini dengan baik, maka seharusnya keuangan pribadi maupun keluarga sehat-sehat saja. Nah, bagaimana membagi batasan yang biasanya dipakai ? Untuk menabung atau investasi disarankan minimal 10%, dan cicilan maksimal 30% dari penghasilan rutin per bulan. Pengeluaran ini dicatat, sehingga dari sini diketahui ke mana pengeluaran tersebut dan di mana letak-letak kebocoran keuangan selama ini.

 

3. Membiasakan diri menabung. Uang bukan segalanya, tapi segala hal butuh uang. Meskipun ungkapan ini kurang enak didengar, tetapi kalau dipikir-pikir ada benarnya. Memang uang bukan segalanya, tetapi kalau tidak punya uang saat dibutuhkan pasti muncul masalah. Nah, ungkapan ini seolah mengingatkan kita untuk selalu menabung. Bahkan, perilaku menabung sudah harus ditanamkan pada anak sejak usia dini.

 

Menabung memang bukan hal yang mudah dilakukan. Beberapa orang mengatakan sangat sulit untuk menabuung. Ada ungkapan alah bisa karena biasa. Demikian pun menabung harus jadi kebiasaan. Menabung juga besar manfaatnya. Mengajarkan berhemat. Menghindari membeli sesuatu uang tidak berguna, dan menyisihkannya untuk ditabung sebagai dana cadangan yang akan berguna di kemudian hari. Menabung juga kita berhutang. Siapa pun tidak dapat menghindari yang namanya kebutuhan mendadak, entah itu karena mendadak sakit, kecelakaan, atau kebutuhan mendesak lainnya. Nah, menabung sama dengan menyediakan payung sebelum hujan. Ketika ada kebutuhan mendadak seperti itu, maka tabungan tadi bisa menjadi dana cadangan. Sehingga tidak perlu berhutang ke bank, teman, tentangga, rentenir, dan lain-lain yang malah bisa saja menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

 

4. Batasi penggunaan kartu kredit. Kebiasaan menggunakan kartu kredit bisa membuat kita terjerat utang yang lebih besar. Kebiasaan ini dimulai dari tidak cermat menggunakan kartu kredit atau berutang untuk konsumsi. Mulai sekarang, cobalah untuk membatasi konsumsi tidak melebihi pendapatan agar tidak berutang melalui kartu kredit atau pinjaman.

 

5. Tambahkan penghasilan. Mengurangi pengeluaran dan menambahkan penghasilan mungkin agak sulit dilakukan. Namun beberapa orang menjalani side job untuk menambahkan penghasilannya. Banyak opsi yang dapat dilakukan untuk menambah penghasilan, dengan mulai berinvestasi, membuka toko online atau pekerjaan lainnya. Sebaiknya seseorang terutama memiliki lebih dari satu sumber penghasilan.

 

6. Ubah Gaya Hidup. Disadari atau tidak teknologi mengubah gaya hidup. Mulai dari cara berpenampilan yang selalu mengikuti tren mode terbaru, pilihan menu makanan, hingga cara memilih hiburan baik untuk diri sendiri maupun bersama dengan keluarga. Perubahan gaya hidup ini cenderung mengarah pada kehidupan yang konsumtif alias boros. Sikap boros tentu tak baik bagi kesehatan finansial ke depannya. Orang akan lebih memilih untuk membelanjakan uangnya dibanding dengan menginvestasikannya. Lagi-lagi tanpa disadari sikap boros tersebut justru menjerumuskan dalam kemiskinan dan jeratan utang. Di saat pasak lebih besar daripada tiang, sementara gaya hidup modern nan hedonis seolah telah mendarah daging tentu akan sulit untuk melakukan penghematan. Enam cara ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya perilaku yang bisa Anda lakukan untuk mengelola keuangan dengan bijak, sehingga kondisi keuangan tetap sehat. **

 

Sumber : Media Info BPJS Kesehatan Ed. 75