Meskipun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah mulai dilonggarkan, sebagian instansi atau perusahaan saat ini masih menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Upaya ini dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin meluas, khususnya di lingkungan kerja.

Diakui Darmawan Aji yang dikenal sebagai productivity coach, bagi mereka yang terbiasa ngantor, perubahan pola kerja ini tentunya mengagetkan. Rumah yang biasanya menjadi tempat bersantai, kini berubah menjadi tempat bekerja. Sehingga wajar bila sebagian pekerja mengalami kegamangan saat diminta bekerja dari rumah. Produktivitas pun tiba-tiba menurun tajam.

Agar tetap bisa produktif meskipun bekerja dari rumah, Aji membagikan beberapa tips yang bisa diterapkan. Tentu saja penerapannya perlu disesuaikan dengan konteks pekerjaan masing-masing.

 

Sediakan tempat khusus

Kita perlu menciptakan tempat khusus yang didedikasikan untuk bekerja. Tak perlu ruangan khusus jika memang tak punya. Meja dan kursi khusus bekerja pun sudah memadai. Tetapi jika memungkinkan, jangan bekerja di kamar tidur atau di ruang hiburan. Sebab nantinya otak kita akan bingung, apakah kita perlu mengaktifkan mode bekerja atau bersantai?

“Otak adalah pengenal pola. Tugasnya mengenali pola dengan memindai isyarat dari lingkungan sekitarnya. Katakanlah, kita mencoba bekerja di ruang keluarga yang difasilitasi televisi berlayar lebar dan sofa. Kita duduk di sofa, membuka laptop. Apa yang akan terjadi? Mungkin kita bisa bekerja 5-10 menit, namun godaan untuk googling film terbaru, buka sosial media, atau bahkan memungut remote TV akan sangat kuat. Kita akan kesulitan melawan lingkungan kita,” kata Aji.

Rutinitas kerja

Jangan bayangkan bekerja dari rumah bisa membuat kita bebas, tidak perlu mandi atau cukup pakai sarung dan kaos oblong. Aji mengatakan para freelancer sukses tidak melakukan hal seperti ini di waktu kerjanya. Mereka tetap mandi pagi dan memakai pakaian yang layak untuk bekerja. Meskipun tentu saja, pakaian mereka jauh lebih santai daripada mereka yang bekerja kantoran.

Jika kita terbiasa bekerja di kantor, kita perlu memulai hari kerja kita secara formal. Lakukan rutinitas yang biasa kita lakukan di hari kerja ini selama bekerja dari rumah, mulai dari mandi pagi, berpakaian yang rapi, lalu pergi menuju “dedicated space” kita sebelum jam kerja dimulai. Tentu saja, kita perlu menetapkan jam berapa kita mulai bekerja.

“Mengapa ini perlu dilakukan? Untuk memberikan isyarat pada otak bahwa kita siap untuk bekerja. Saat ini dilakukan, mode otak akan mengubah dari mode bersantai menjadi mode bekerja. Secara mental, kita juga melakukan transisi dari family time ke work time,” kata Aji.

 

Merencanakan hari

Bekerja dari rumah berarti bekerja tanpa pengawasan melekat. Ini satu keuntungan, karena memberikan kita sedikit kebebasan dalam bekerja. Namun, di sisi lain, kita kehilangan unsur monitoring yang bisa jadi membuat kita lalai dalam bekerja. Akhirnya, kita pun menjadi kurang produktif dibandingkan saat bekerja di kantor. Karenanya, saat bekerja dari rumah, kita perlu merencanakan hari kita.

Apapun yang ingin kita lakukan, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, atur prioritas. Mana pekerjaan yang harus selesai hari ini, dan mana pekerjaan yang bisa juga diselesaikan di hari lain. Kedua, buatlah to-do list. Tuliskan apa saja yang perlu Anda tuntaskan hari ini. Pastikan to-do list Anda mudah dipahami dan bisa dikerjakan, dan jangan membuat to-do list yang tidak masuk akal. Ketiga, tetapkan jadwal. Apa yang akan Anda kerjakan, kapan Anda akan mengerjakannya, sampai kapan. Setidaknya, buat deadline di to-do list yang Anda buat.

 

Fokus Bekerja

Saat mulai bekerja, pastikan Anda bekerja dengan fokus tanpa gangguan. Anda akan menuntaskan lebih banyak hal saat bekerja dengan fokus daripada bekerja secara tidak fokus.

Apa saja yang bisa kita lakukan untuk membantu kita fokus? Aji mengingatkan, kita perlu membatasi distraksi. Matikan notifikasi chat dan sosial media agar konsentrasi kita tidak pecah. Jangan lupa untuk memberi pengertian pada anak-anak dan pasangan.

Yang juga penting adalah melakukan break terjadwal untuk memulihkan energi kita. Setelah bekerja 25 menit, lakukan jeda 5 menit. Berjalan kaki, minum kopi, menyapa anak, apapun. Ini akan mengembalikan energi dan fokus Anda. Selain itu, jeda teratur (berdiri atau berjalan kaki sejenak) dapat mengurangi risiko serangan jantung dibandingkan duduk terus menerus. Penelitian Mayo Clinic misalnya menyatakan bahwa seseorang yang bekerja sambil duduk enam jam sehari memiliki risiko tinggi penyakit jantung. Risiko ini hanya dapat dikurangi bila kita ingat untuk berdiri sejenak minimal per satu jam.

Batching

Batching adalah mengelompokkan tugas yang serupa. Saat bekerja dari rumah, Aji berpesan untuk tidak membiarkan tugas serupa tersebar di berbagai waktu Anda. Kumpulkan jadi satu untuk membuat waktu kerja Anda lebih efektif.

Beberapa tugas atau aktivitas yang bisa kita batching antara lain menjawab chat, telepon dan berkomunikasi dengan kolega, pekerjaan administratif (membuat laporan dsb), memproses email, dan melakukan transaksi.

Kolaborasi

Bekerja dari rumah bukan berarti mengerjakan apa-apa sendiri. Kita masih bisa mendelegasikan tugas serta berkoordinasi dengan tim. Hanya bedanya, kita melakukannya secara virtual. Di sinilah pentingnya memanfaatkan teknologi. Kita bisa gunakan teknologi yang ada untuk membantu kita berkolaborasi dengan tim, misalnya melalui aplikasi meeting conference.

 

Tetap aktif

Berada di rumah seharian bagi sebagian orang bisa membosankan, bahkan melelahkan. Untuk membuat kita tetap produktif, kita membutuhkan energi. Salah satunya dengan berolahraga. Tetapi dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, kita perlu memilih olahraga harian yang cocok.

“Berolahraga juga penting untuk menajamkan pikiran. Pikiran dan tubuh satu kesatuan, jika tubuh pasif pikiran pun akan ikut pasif. Meluangkan waktu untuk berolahraga akan membantu kita dalam menajamkan pikiran kita,” kata Aji.

Tentukan jam kerja

Jika jam mulai kerja jelas, berakhirnya pun perlu jelas. Tetapkan, kapan Anda akan mengakhiri jam kerja. Ini penting, apalagi bila kita bekerja di rumah. Alasannya sederhana: kita perlu melakukan transisi mental, dari work time ke family time.

“Saat jam berakhir, tinggalkan pekerjaan kita. Catat apa yang perlu dilakukan besok. Lalu, tinggalkan dedicated space kita. Jangan gunakan dedicated space ini untuk aktivitas lain, kecuali untuk bekerja,” pesan Aji.

 

Sumber: Media Info BPJS Kesehatan Ed. 84