Mengapa minum obat harus sampai habis ? Pertanyaan ini seringkali dilontarkan manakala seseorang merasa sudah sembuh, tetapi obat yang diberikan dokter belum habis. Dan masih banyak lagi pertanyaan seputar penggunaan obat yang muncul dari ketidakpahaman.

Obat berbeda dengan makanan meskipun sama-sama masuk dalam tubuh kita. Ada efek yang diharapkan, yaitu khasiat (efikasi), dan juga efek yang tidak diharapkan, yaitu efek samping. Obat akan berkhasiat bila digunakan dengan tepat dan bijak.

Sayangnya, sebagian dari kita seringkali buat kesalahan dalam menggunakan obat. Peraturan minum obat sering kita langgar. Apa saja itu ? Pertama, berhenti minum obat. Merasa diri sudah sembuh, lalu berhenti minum obat. Padahal dosis yang diberikan telah diperhitungkan untuk membunuh bakteri atau mencegah perburukan penyakit tertentu.

Apabila obat tidak dihabiskan, maka bakteri di dalam tubuh yang harusnya mati akan tetap hidup, bahkan tidak kebal terhadap pengobatan berikutnya. Yang sering terjadi adalah obat antibiotik. Obat antibiotik yang tidak dihabiskan sesuai resep dokter membuat bakteri dalam tubuh menjadi lebih kuat, dan akan sulit dilawan. Resistensi antibiotik sekarang ini makin mengkhawatirkan karena penggunaan yang tidak tepat.

Kedua, minum obat sisa. Obat dari dokter yang seharusnya dihabiskan, malah disimpan buat stok untuk sakit berikutnya. Perilaku buruk ini masih dilakukan sebagian orang. Bukan hanya obat resep dokter, pada obat yang dibeli sendiri untuk penyakit ringan seperti obat sakit kepala, nyeri otot, mual dan flu pun demikian. Kebiasaan ini mungkin tidak terlalu membahayakan atau berakibat fatal, tapi justru tidak membantu. Karena bisa jadi penyakit saat ini dengan penyakit sebelum atau sesudahnya berbeda, hanya saja gejalanya mirip. Percuma, karena obat sisa tersebut tidak mempan.

Ketiga, minum obat orang lain. Mungkin karena alasan berhemat atau sulit akses fasilitas pelayanan, obat yang pernah digunakan seorang penderita diberikan kepada penderita lain. Kesalahan ini biasanya dilakukan ketika ada anggota keluarga yang lebih dulu sakit dengan gejala yang mirip. Ini keliru besar. Meski gejala penyakitnya sama, riwayat medis dan kemungkinan alergi tiap individu itu berbeda. Efek yang ditimbulkan pun jadinya berbeda. Bukannya sembuh, penderita kedua yang menggunakan obat dari penderita pertama bisa jadi menyebabkan dampak buruk lainnya. Karenanya tidak dianjurkan minum obat orang lain walaupun gejala penyakit yang dirasakan mirip.

Keempat, menambah dan mengurangi dosis. Dokter telah mengatur dosis obat agar sesuai dengan kebutuhan medis pasien. Mengurangi dosis bisa membuat khasiat obat jadi kurang efektif. Bila terus dibiarkan malah membuat penyakit tambah parah. Obat yang dikonsumsi belum mengurangi gejala penyakit sesuai harapan, membuat penderita tergoda untuk menambah dosis obat agar cepat sembuh. Keputusan ini tidak disarankan. Sebab, beberapa obat yang dikonsumsi dalam dosis tinggi dapat menyebabkan overdosis yang membahayakan tubuh. Oleh karena itu penting untuk tetap mematuhi aturan minum obat dari dokter.

Kelima, tidak sedikit pula masyarakat yang mengonsumsi satu obat dengan harapan bisa. Bisanya sebagian masyarakat mengonsumsi produk obat jenis anti-inflamasi hormon untuk mendapatkan efek gemuk. Namun, harus diingat bahwa efek gemuk tersebut sebenarnya adalah efek samping obat yang disebut oedem.

Karena efek gemuk yang terjadi adalah efek samping obat, maka efek gemuk yang terjadi terlihat tidak proporsional, misalnya hanya di bagian wajah. Jika diteruskan akan berdampak negatif bagi tubuh karena akan merembet kepada hal-hal lain, seperti penekanan pada kelenjar adrenal yang akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Selain itu penggunaan jangka lama dapat menyebabkan efek samping diabetes dan osteoporesis.

Keenam, obat keperkasaan pria. Banyak terjadi salah persepsi di mana obat ini dipahami sebagai obat kuat. Padahal banyak faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut. Untuk masalah yang disebabkan oleh faktor psikis tentunya dapat diatasi tanpa intervensi atau tanpa penggunaan obat.

Tak kalah penting adalah sebelum konsumsi obat, terutama obat bebas, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengecek nomor izin edar atau nomor registrasi serta tanggal kadaluarsa. Obat yang tidak mencantumkan nomor ijin edar atau nomor registrasi berarti belum terdaftar di BPOM RI. Menggunakan obat seperti ini beresiko tinggi, bisa saja tidak terjamin kebenaran kandungan dan mutunya.

Cek masa kadaluarsa obat. Ini penting untuk menghindari konsumsi obat yang sebenarnya sudah tidak layak konsumsi. Mengonsumsi obat kadaluarsa banyak risikonya, misalnya obat tidak bekerja optimal atau mungkin menjadi toksik. Hal ini berbahaya terutama untuk obat-obat jenis antibakteri, anti hipertensi, dan anti diabetes. Obat kadaluarsa juga tidak optimal kerja karena menurunnya kadar/potensi obat, sehingga memberikan dampak lain seperti mengacaukan diagnosa penyakit, menimbulkan/meningkatkan kasus resistensi antibiotik, dan meningkatkan biaya pengobatan.

Cek nomor batch yang tercantum pada kemasan. Ini kode yang diberikan oleh industri farmasi bersangkutan, sehingga memudahkan dilakukan penelusuran bila terjadi masalah pada produk obat yang beredar dipasaran baik keamanan maupun mutunya. Memperhatikan cara penyimpanan. Menyimpan obat sesuai dengan yang dianjurkan berarti ikut menjaga kondisi dan keadaan obat tersebut tetap stabil hingga masa kadaluarsa.

 

Sumber: Info BPJS Kesehatan Ed. 72