07 Apr 2020
  |  
Dilihat : 179 kali

Yuk, Waspadai Gejala DBD Sebelum Terlambat

 

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan masuknya virus Dengue yang biasanya terdapat pada nyamuk Aedes Aegypti. Jika seseorang yang digigit nyamuk tersebut tidak dikenali gejalanya dan tidak tertangani dengan cepat, maka dapat menyebabkan kematian. Ketua Divisi Infeksi dan Pediatri Tropik Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM-FKUI, Dr Mulya Rahma Karyanti, SpA(K), MSc, pada seminar awam dan media bertemakan “Demam Berdarah yang Tak Kunjung Musnah, Mengapa?” mengajak kita untuk mewaspadai beberapa gejala DBD agar tidak berakibat fatal.

Menurut Dr Mulya, gejala DBD baru muncul dalam 7 hari bahkan ada yang sampai 10 hari setelah digigit nyamuk. Setelah digigit, tidak ada gejala yang khas alias mirip dengan penyakit lainnya seperti demam biasa. Karenanya, begitu demam tinggi tidak sembuh selama 2 hari, sebaiknya langsung ke fasilitas kesehatan untuk memastikan demam tersebut DBD atau bukan.

Yang perlu diperhatikan adalah demam dari DBD ditandai dengan panas tinggi mendadak, dan bisa mencapai 40 derajat Celcius. Demam tinggi terjadi selama 2-7 hari.  Kemudian nafsu makan menurun, mual, kadang muntah, sakit kepala, dan sakit perut.  Pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati. Tulang sendi terasa ngilu dan nyeri otot. Bisa disertai diare. Bisa juga disertai perdarahan dengan gejala seperti bintik bintik merah, mimisan, gusi berdarah, muntah darah, dan buang air besar berdarah. Kondisi ini menunjukkan DBD masuk fase kritis. Kalau sudah alami gejala ini, tidak ada alasan lagi untuk menunda ke fasilitas kesehatan.

Sebab tanpa perawatan medis, penderita akan mengalami syok atau perdarahan berat yang ditandai dengan kaki dingin dan lembab, lemah, tidur terus dan hilang kesadaran.

Setelah mengalami panas mendadak, biasanya dalam beberapa hari panas dan demam akan menghilang. Pada fase ini terjadi penurunan trombosit kurang dari 100.000/mm3 dan peningkatan hematokrit. Pada anak-anak biasanya terjadi syok dengue. Kondisinya memburuk, gelisah, lemah, tangan kaki dingin, nafas cepat dan buang air kecil berkurang.

Gejala DBD pada anak dan dewasa sama saja. Bedanya, pada anak akan lebih rentan syok karena sirkulasi darahnya lebih kecil dari orang dewasa. Asupan cairan yang lebih sedikit dan kekebalan tubuh yang lebih rendah pada anak-anak menyebabkan mereka lebih rentan jatuh ke kondisi syok dibanding orang dewasa. Itulah mengapa angka kematian yang dilaporkan dari berbagai daerah lebih banyak usia anak.

Untuk pertolongan pertama gejala DBD di rumah sebelum ke fasilitas kesehatan, yaitu pasien harus istirahat total. Apabila masih demam tinggi, bisa dikompres dengan kompres hangat. Berikan banyak cairan/minum kepada pasien. Berikan obat penurun panas seperti parasetamol. Jangan membungkus pasien dengan baju dan selimut berlapis lapis. Ini justru berbahaya karena akan mempertahankan panas tinggi yang membuat pasien semakin kekurangan cairan.

Ketika menderita DBD, pasien harus dihindarkan dari obat-obatan seperti asetosal, asam mefenamat, steroid dan obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) seperti ibuprofen. Obat-obat ini dapat meningkatkan risiko gangguan lambung dan pendarahan. Namun harus ditanyakan kepada dokter untuk mendapatkan informasi lebih lanjut jika pasien menderita DBD dan sedang mengonsumsi obat-obat tersebut.

Namun, kondisi-kondisi seperti ini tidak perlu terjadi apabila kita sadar untuk melakukan pencegahan. Karena bagaimana pun mencegah tetaplah lebih baik daripada mengobati. Kegiatan seperti menguras bak mandi, membersihkan dan menutup rapat rapat tempat penampungan air seperti ember, tempat air minum, air lemari es, atau wadah dispenser harus rutin dilakukan minimal dua kali seminggu.

Taburkan bubuk larvasida atau abate pada tempat penampungan air karena efektif membunuh larva nyamuk. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah juga efektif untuk pencegahan. Buang kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk. Sedapat mungkin menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat antinyamuk atau  kelambu saat tidur. Semua kegiatan ini tujuannya untuk memusnahkan perkembangan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus DBD kepada manusia melalui gigitannya.

 

Sumber: Info BPJS Ed. 70