Lhokseumawe, Jamkesnews – BPJS Kesehatan Cabang Lhokseumawe melakukan pertemuan dengan seluruh direktur rumah sakit pada Selasa (05/05). Pertemuan yang dilaksanakan dalam rangka evaluasi layanan yang diberikan kepada peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) ini hadiri oleh 12 direktur rumah sakit yang tersebar di wilayah Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.

Dalam sambutannya, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Lhokseumawe Manna menyampaikan apresiasinya untuk seluruh mitra kerja BPJS Kesehatan yang telah memberikan pelayanan. 

“Terima kasih kepada bapak ibu yang sudah melayani pasien JKN dengan baik, fokus kita tahun 2021 ini adalah pada mutu layanan, jadi ke depannya kita akan terus melalukan perbaikan bersama-sama bagaimana untuk meningkatkan kepuasan layanan,” jelas Manna.

Lebih lanjut Manna juga mengatakan bahwa berdasarkan data yang diterima bahwa feedback ketidakpuasan pasien terbanyak adalah pada aspek sistem antrean di rumah sakit. Untuk itu Manna mengimbau untuk seluruh rumah sakit yang menjadi mitra BPJS Kesehatan agar melakukan upaya pemaksimalan pemanfaatan sistem antrean yang tidak manual atau dikenal dengan sistem antrean online.

“Sistem antrean ini sudah kita akomodir untuk dihubungkan dengan aplikasi Mobile JKN, jadi supaya dimaksimalkan pemanfaatannya agar pada akhirnya dapat meningkatkan kepuasan pasien, karena paling banyak itu terkait kepastian waktu tunggu dan kecepatan dilayani,” sambung Manna.

Ditemui saat kegiatan, terkait otomasi sistem antrean Direktur RSU Arun Lhokseumawe Syahruddin Ibrahim mengatakan bahwa pihaknya telah memanfaatkan bridging sistem antrian rumah sakit dengan Mobile JKN milik BPJS Kesehatan yang sangat memudahkan masyarakat. Tak hanya itu pihaknya juga telah membangun sistem manajemen informasi terintegrasi berbasis aplikasi yang dapat digunakan seluruh pasiennya untuk mendapatkan kepastian waktu tunggu layanan yang dapat secara real time dilihat melalui gawai masing-masing pasien.

Sedangkan perihal ketidakpuasan pasien di rumah sakit, Syahruddin mengatakan bahwa hal tersebut mayoritas disebabkan karena adanya masalah komunikasi.

“Sebesar 80% masalah atau pengaduan di kita sebabnya itu adalah komunikasi, terkadang informasi yang disampaikan tidak tersampaikan atau tidak diterima dengan baik, tapi ini akan selalu kita upayakan untuk diperbaiki agar kepuasan pasien terhadap layanan rumah sakit kita tetap terjaga,” jelas Syaruddin. (HA/pm)