Kepulauan Yapen, Jamkesnews - BPJS Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen melakukan evaluasi dan pemantapan Program Rujuk Balik (PRB), Rabu (14/10). Dalam pertemuan tersebut, Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer BPJS Kesehatan Veni Permata menjelaskan bahwa evaluasi dan pemantapan PRB bertujuan untuk mengoptimalkan peran Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam pelaksanaan PRB.

"Person In Change (PIC) PRB yang akan mendaftarkan peserta penderita penyakit kronis melalui aplikasi harus memastikan bahwa peserta tersebut layak terdaftar PRB dengan memperhatikan 3B yaitu Benar Diagnosisnya, Benar Kondisinya Stabil, dan Benar Obatnya," katanya.

Pasien penyakit kronis yang dapat masuk dalam PRB adalah penyakit diabetes melitus, hipertensi, jantung, asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), epilepsy, skizofren, stroke dan Sindroma Lupus Eritematosus (SLE). 

“Tidak semua pasien yang berobat di rumah sakit bisa terdaftar sebagai peserta PRB, karena PRB adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien yang menderita penyakit kronis tertentu dan telah dinyatakan kondisinya stabil oleh dokter spesialis/subspesialis di FKRTL dan  masih butuh pengobatan jangka panjang di FKTP. Oleh sebab itu, diharapkan PIC PRB FKRTL wajib melakukan validasi 3B sebelum mendaftarkan peserta PRB,” jelas Veni.

Salah satu PIC dokter keluarga, dr. Meyliana Suthelie juga menyampaikan bahwa dalam melaksanakan PRB ini, ia merasakan beberapa tantangan, di antaranya ketidakpahaman peserta JKN-KIS terhadap PRB.

"Peserta pernah mengalami kendala dalam pendaftaran dan pelayanan PRB, obat yang diresepkan di rumah sakit bukan termasuk obat PRB yang menyebabkan peserta akan kembali juga ke rumah sakit sehingga menganggap PRB tidak berguna dan terhentinya pengobatan akibat status peserta nonaktif seperti menunggak misalnya,” ujarnya.

Menanggapi kendala-kendala yang telah disampaikan, Veni juga menjelaskan upaya-upaya yang segera dilaksanakan.

“Untuk meningkatkan pelayanan terhadap peserta PRB di Kepulauan Yapen, dapat dilakukan perbaikan seperti memberikan kejelasan pasar bagi apotek dan meningkatkan kemampuan pendanaan apotek dalam menjamin ketersediaan obat. PRB dioptimalkan sebagai program yang bersifat pasien-sentris untuk meningkatkan motivasi dan inisiatif peserta dalam mencapai target terapi yang diharapkan, meningkatkan kolaborasi antara FKTP dan FKRTL dengan mengoptimalkan peran apoteker,” papar Veni. (TR/hs)