10 Mei 2020
  |  
Dilihat : 659 kali

PEGAWAI BPJS KESEHATAN DONASI SEMBAKO, SEORANG PEDAGANG ASONGAN MENERIMANYA DENGAN MATA BERKACA-KACA

Padang, Jameksnews — "Terima kasih, terima kasih sekali ya, nak,” ujar Zul (56) seorang pedagang asongan yang duduk termangu menanti pembeli di kawasan Masjid Raya Sumatra Barat. Ia menerima paket sembako dari BPJS Kesehatan dengan mata berkaca-kaca. Masa pandemi membuat dagangannya sepi, baginya paket sembako sore ini adalah rahmat.

Zul tidak sendiri, Sam (63) tahun juga mengaku demikian. Bedanya, hari-hari Sam kini terasa lebih sulit, biasanya di jam-jam pulang sekolah seperti ini ia bisa mondar-mandir berkali-kali untuk mengantar pelajar di sekitar Lolong Belanti ke jalan utama, tapi siang ini, Jamkesnews melihatnya tertidur di becaknya sendiri yang  ia parkir tepat di di depan gerbang SMA Negeri 1 Padang.

Ketika dibangunkan tim BPJS Kesehatan, ia sedikit terkejut sebelum benar-benar tersadar dari tidurnya. Setelah berhasil menguasai diri dan keadaan, Sam menyampaikan ucapan terima kasih kepada Duta BPJS Kesehatan yang memberikannya sembako tersebut.

Sam mengungkapkan bahwa liburnya pelajar di Kota Padang sangat berpengaruh pada pendapatan hariannya, maka dari itu ia sangat bersyukur dapat sembako dari BPJS Kesehatan. “Narik ya satu dua orang, sekolah libur ya sepi sekali saat ini,” ungkapnya.

Kepala Bidang SDM, Umum, Komunikasi Publik dan Hukum, Prayudi Ananda Septian mengatakan bahwa paket sembako yang dibagikan tersebut dibeli dari hasil donasi Duta BPJS Kesehatan Cabang Padang. Duta BPJS Kesehatan merupakan sapaaan keseharian untuk seluruh civitas di BPJS Kesehatan.

Program donasi bertema BPJS Kesehatan Peduli ini dihelat dalam rangka memperingati 52 Tahun BPJS Kesehatan. Seluruh Duta berdonasi, ada batas minimal tapi tidak ada batas maksimalnya. Semampunya masing-masing pegawai di lima kabupaten/kota yang menjadi wilayah kerja BPJS Kesehatan Cabang Padang.

“Di Padang kami berputar-putar menggunakan dua mobil yang beriringan, saat bertemu warga terdampak kami berkoordinasi menggunakan HT (handy talky, -red). Bantuan kita berikan ke pengemudi becak, buruh harian lepas, pedagang kecil atau masyarakat yang secara visual kami lihat kondisi rumahnya memang butuh bantuan,” ungkapnya.

Sebelum pandemi, lanjut Prayudi, pengemudi becak di sekitar Lolong Belanti dan Ulak Karang ini banyak penumpang khususnya pelajar. Sementara sejak Maret lalu, Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat telah meliburkan semua kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

“Kondisi ini praktis membuat pemasukan mereka (pengemudi becak, red) menurun drastis. Terlebih lagi adanya pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar, -red) di Sumatra Barat, dampaknya terhadap pemasukan pasti sangat terasa, sementara kebutuhan tetap harus dipenuhi. Kami bagikan di kabupaten/kota lain yang masih wilayah kami juga,” tambahnya.