05 Des 2018
  |  
Dilihat : 48 kali

BIAYA RUMAH SAKIT MAHAL, SEDIA KARTU BPJS KESEHATAN.

Narasumber : Saenab (68)

Watampone, Jamkesnews - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah beroperasi sejak 1 Januari 2014, sejak saat itu BPJS Kesehatan telah menjadi andalan keluarga Indonesia dalam memberikan perlindungan kesehatan, khususnya pada saat mengakses pelayanan di fasilitas kesehatan. Hal tersebut merujuk pada data jumlah kepesertaan Program JKN-KIS yang telah mencapai angka 207 juta pada 1 Desember 2018.

Salah satu peserta yang telah mendaftar pada saat pertama kali PT. Askes (Persero) berubah menjadi BPJS Kesehatan mengakui hal tersebut.

Saenab (68) ibu rumah tangga asal Desa Tanete Kabupaten Bone ditemui pada saat berkunjung ke Kantor BPJS Kesehatan Cabang Watampone untuk melakukan penggantian faskes, Rabu (5/12). Saenab mengatakan bahwa BPJS Kesehatan saat ini sudah menjadi kebutuhan utama dikeluarganya. Hal ini tidak terlepas dari semakin tingginya biaya pelayanan kesehatan sementara penghasilan semakin tidak menentu.

“Sekarang ini biaya rumah sakit semakin mahal, belum sakit yang tidak bisa diprediksi, kalau tidak punya BPJS Kesehatan kemudian sakit, bisa jadi tabungan yang selama ini dikumpulkan terkuras bahkan bisa sampai habis,” Jelas Saenab.

Layaknya sedia payung sebelum hujan, Saenab menyadari bahwa membayar iuran tepat waktu sangatlah penting karena akan merepotkan apabila sewaktu-waktu ingin menggunakan tetapi menunggak iuran.

“Di usia tua seperti sekarang ini, penyakit sering datang jadi mesti selalu sedia kartu BPJS Kesehatan, saya juga sering mengingatkan anak dan keluarga saya untuk tidak lupa membayar iurannya, soalnya repot kalau sudah mau berobat terus menunggak,“ Tambah Saenab.

Semenjak terdaftar menjadi peserta Program JKN-KIS Saenab beserta keluarga telah merasakan manfaat program ini. Beberapa kali Saenab bersama suami menggunakan kartu JKN-KIS untuk berobat di puskesmas maupun di rumah sakit tanpa harus membayar biaya pengobatan. Terdaftar sebagai peserta kelas 1 program JKN-KIS, Saenab merasa pelayanan yang didapatkan jauh lebih mahal dibanding iuran yang harus dibayarkan setiap bulan.

“Sebanyak tiga kali suami saya harus berobat di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar karena penyakit Paru Obstruktif Kronik yang sudah sejak lama dideritanya, alhamdulillah sekarang kondisinya semakin membaik. Kalau mau dihitung biaya pelayanan kesehatan yang saya gunakan selama menjadi peserta BPJS Kesehatan jumlahnya mungkin sudah puluhan juta,” Ungkap Saenab.