07 Nov 2019
  |  
Dilihat : 14 kali

Berharap JKN KIS Tetap Ada dan Pemerintah Tetap Bayarkan Iuran Masyarakat Kurang Mampu

Narasumber : Agus Sulistiowati (45)

Malang, Jamkesnews – Penyakit gagal ginjal terdengar begitu menakutkan bagi nya bahkan bagi semua orang. Seperti yang dialami Agus Sulistiowati (45), seorang wanita sebagai ibu rumah tangga yang berasal dari Kecamatan Pandanwangi Kota Malang. Yang pertama terpikir saat divonis yaitu biayanya yang mahal dan harus dilakukan secara rutin. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang tergolong pas-pasan, hal tersebut terdengar bagaikan petir.

 “Sejak tahun 2018 saya divonis dokter menderita Diabetes Mellitus (DM). Namun, karena tidak ada keluhan yang berarti saya tidak pernah kontrol rutin, hingga suatu waktu saya tidak sadarkan diri dan di bawa oleh suami saya ke UGD rumah sakit, dari sana saya langsung divonis oleh dokter bahwa saya gagal ginjal, ginjal saya hanya berfungsi 10% saja,” ungkap ibu empat anak ini.

Ketika ditemui tim Jamkesnews pada Kamis (07/11) di rumahnya, ia bercerita bahwa sejak saat itu ia rutin berobat dari Puskesmas dan rumah sakit. Karena ia harus menjalani cuci darah seminggu dua kali. Biaya adalah hal yang pertama ia pikirkan ketika dokter menyuruh untuk rutin menjalani cuci darah. Karena informasi yang ia peroleh tarif untuk 1x cuci darah saja ia tidak mampu membayarnya. Suaminya hanya seorang pekerja di sebuah bengkel dan masih mempunyai tanggungan empat orang anak. Untuk bisa mencukupi biaya kehidupan sehari-hari saja ia sudah sangat bersyukur.

Namun akhirnya Agus bisa bernafas lega setelah mengetahui bahwa biaya pengobatan untuk penyembuhan penyakitnya itu ditanggung seluruhnya oleh JKN-KIS BPJS Kesehatan. Dirinya adalah seorang peserta JKN-KIS dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN sejak tahun 2012. Setelah menjalani beberapa kali cuci darah, Agus akhirnya dapat beraktivitas seperti biasa lagi dengan tidak mengeluarkan biaya satu rupiah pun untuk pengobatan tersebut.

"Dengan menjadi peserta JKN-KIS, saya merasa sangat terbantu karena tidak perlu khawatir akan biaya pelayanan kesehatan. Walaupun saya dari peserta PBI namun pelayanan di rumah sakit tempat saya berobat tidak ada perbedaan dengan peserta JKN KIS yang membayar iuran mandiri,’’ tuturnya.

Sebagai peserta JKN-KIS, Agus merasakan betul manfaat jaminan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah. Agus pun berharap agar masyarakat lain yang mengalami sakit seperti dirinya dapat sembuh tanpa harus terkendala biaya. Serta ia berharap agar pemerintah terus mampu membayar iuran untuk penduduk yang kurang mampu sepertinya.

“Semoga program mulia ini dapat terus berjalan dan menolong orang-orang seperti kami. Saya juga mengucapkan terima kasih pemerintah, kami doakan BPJS Kesehatan terus ada dan pemerintah tetap membayar iuran masyarakat yang kurang mampu seperti kami ini," tutup Agus. (ar/ep)