11 Okt 2019
  |  
Dilihat : 12531 kali

JANGAN HAPUS HARAPAN HIDUP KAMI DENGAN MENGHAPUS PROGRAM JKN-KIS

Narasumber : Hasnawati (43 tahun)

Watampone, Jamkesnews – Hasnawati (43 tahun) merupakan pasien yang rutin menjalani perawatan cuci darah dua kali dalam seminggu di RSUD Tenriawaru sejak 4 tahun yang lalu. Ia telah terdaftar sebagai peserta Program JKN-KIS segmen PBI APBN.

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Cellu Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone ini dan seluruh keluarganya telah menerima kartu JKN-KIS sejak tahun 2014. Seluruh anggota keluarganya pun pernah memanfaatkannya untuk berobat baik ke puskesmas maupun ke rumah sakit. Ayah Hasnawati merupakan seorang petani sedangkan dia sehari-hari hanya membantu keluarganya di rumah.

“Kami sekeluarga dapat ini (kartu JKN-KIS) sudah lama, sejak tahun 2014. Dan kami sering menggunakannya, terutama saya,” ungkapnya.

Tahun 2015, Anak ketiga dari empat bersaudara ini divonis penyakit gagal ginjal yang mengharuskannya menjalani cuci darah secara rutin di rumah sakit.

“Untuk perawatan setelah cuci darah pun saya diberikan arahannya oleh dokter apa-apa saja yang harus dihindari untuk menjaga pola makan saya. Ruangan di sini  juga nyaman dan petugas rumah sakitnya melayani saya dengan baik,” tutur Hasnawati di ruang Hemodialisa saat berbincang dengan Tim Jamkesnews, Jumat (11/10)

Saat melihat berita adanya demo terhadap BPJS Kesehatan dia sangat sedih karena secara nyata Program JKN-KIS ini sangat membantu dirinya.

“Saya tidak mengerti kenapa demo, tetapi saya sangat khawatir apabila tidak ada lagi BPJS Kesehatan, karena selama ini saya sendiri sudah merasakan manfaatnya dalam pengobatan saya sehingga tidak pernah mengeluarkan biaya sepeser pun. Apalagi cuci darah ini kan biayanya mahal. Makanya, saat saya mendengar dan melihat berita di televisi tentang BPJS Kesehatan yang didemo saya sedih sekali. Harapan saya untuk seterusnya agar dipertahankan program ini. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi seandainya tidak ada program JKN-KIS, semoga program ini tetap berlanjut,” lanjut Hasnawati

Mengenai isu penyesuaian iuran pun, Hasnawati menyampaikan bahwa  biaya pengobatan penyakitnya masih jauh lebih besar dibandingkan dengan iuran per bulan yang harus dibayarkan.