08 Okt 2019
  |  
Dilihat : 26 kali

Bayar Iuran JKN-KIS Jangan Merasa Rugi

Narasumber : Aipda. Fajar Dwi Ariyanto

Pekalongan, Jamkesnews – Aipda Fajar Dwi Ariyanto, petugas patroli dari Kepolisian Sektor (Polsek) Pekalongan Barat, mengaku tak pernah keberatan tiap bulan gajinya dipotong untuk membayar iuran Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Sebagai petugas negara serta sekaligus warga negara, ia merasa beruntung karena sudah otomatis dijamin kesehatannya melalui Program JKN-KIS. Walau sampai sekarang belum pernah menggunakan fasilitas Program JKN-KIS, ia merasa tidak rugi sama sekali, karena harapannya bisa membantu peserta lain yang membutuhkan.

“Alhamdulillah belum pernah sakit, dan kalau bisa jangan sampai. Tapi yang namanya hidup, pasti ada kalanya seseorang akan jatuh sakit meski sudah maksimal menjaga kesehatan. Makanya jaminan kesehatan tetap diperlukan,” ujar Fajar kepada Jamkesnews, Senin (07/09).

Pria yang tiap pagi berkelilling memantau keamanan lingkungan Podosugih ini mengatakan, BPJS Kesehatan perlu mendapat perhatian khusus, bukan hanya dari pemerintah saja, melainkan dari masyarakat setempat. Menurutnya, masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan rugi jika tidak pernah menggunakan manfaat Program JKN-KIS.

"Ini pola pikir yang salah. Seharusnya justru bersyukur, kartu JKN-KIS tidak dipakai artinya kita diberi kesehatan oleh Tuhan. Kok malah merasa rugi? Iuran yang tiap bulan kita bayar biar saja untuk membantu masyarakat lain yang membutuhkan," tuturnya.

Fajar berharap, ke depannya BPJS Kesehatan dapat meningkatkan kualitas pelayanannya kepada peserta, baik dari sisi pelayanan di kantor cabang maupun pada saat peserta JKN-KIS membutuhkan pelayanan di fasilitas kesehatan.

"Masyarakat juga jangan segan-segan mencari informasi. Jangan malu bertanya kalau ada prosedur yang kurang jelas. Intinya, kita juga sebagai peserta harus aktif mencari tahu apa yang harus kita lakukan, bagaimana langkah-langkahnya biar bisa mendapat jaminan kesehatan, dan apa saja yang dijamin atau tidak dijamin," kata Fajar.

(ma/ey)