04 Okt 2019
  |  
Dilihat : 9672 kali

Luthfi : Tidak Ada Ruginya Jadi Peserta JKN-KIS

Narasumber : Muhammad Luthfi - Peserta PPU

Jakarta Utara, Jamkesnews – Memiliki jaminan kesehatan bagi diri sendiri bukan merupakan suatu hal yang merugikan. Meskipun belum merasakan manfaat jaminannya saat ini, namun tentu akan bermanfaat jika terserang penyakit di kemudian hari. Begitu juga yang dirasakan oleh Muhammad Luthfi.

Pria yang merupakan peserta JKN-KIS segmen Pekerja Penerima Upah ini tidak pernah merasa rugi menjadi peserta JKN-KIS. Walaupun gajinya tiap bulan dipotong untuk membayar iuran, dirinya merasa bahwa dengan terus membayar iuran, akan membantu peserta lain yang membutuhkan biaya pengobatan.

“Tidak ada ruginya jadi peserta JKN-KIS, apalagi sekarang iuran saya sebagian besar ditanggung oleh tempat kerja. Saya hanya mengingatkan kepada masyarakat janganlah merasa rugi jika membayar iuran. Iuran itu sangat berguna untuk peserta lain yang sakit, dan pastinya untuk kita sendiri jika sewaktu-waktu sakit. Bersyukur saat ini saya dan keluarga sehat-sehat saja,” jawab Luthfi saat diwawancarai oleh tim Jamkesnews pada Jumat (04/10).

Luthfi yang merupakan pekerja outsourcing ini merasa senang sudah menjadi peserta JKN-KIS. Meskipun sebelumnya tidak mengenai Program JKN-KIS ini, lambat laun dirinya mulai mengerti arti dari program ini, apalagi setelah sang istri dinyatakan hamil.

“Sebelumnya saya kurang mengerti Program JKN-KIS. Yang saya ketahui hanyalah gaji saya dipotong oleh perusahaan untuk membayarkan iuran JKN-KIS. Tetapi pikiran saya berubah semenjak istri dinyatakan positif hamil. Saya mulai berpikir bagaimana nanti biaya untuk kontrol kehamilan hingga melahirkan,” ungkap Luthfi.

Menurut Luthfi, mungkin ada sebagian peserta yang keberatan jika gajinya dipotong untuk iuran JKN-KIS dan  tidak bisa diambil dikemudian hari jika tidak terpakai. Pemikiran ini tentu saja salah. Membayar iuran adalah kewajiban dan akan bermanfaat jika suatu saat kita sakit. Luthfi pun akhirnya menyadari bahwa iuran yang dibayarkan selama ini adalah tabungan ketika suatu saat ia membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Memang namanya manusia, akan menyadari jika sudah mengalami sendiri. Begitupun saya ketika pertama kali mengetahui istri saya hamil. Saya kepikiran berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk kontrol dan melahirkan. Tapi Alhamdulillah selama ini kontrol kehamilan dijamin oleh JKN-KIS, dan saya pun tidak perlu cemas masalah biaya persalinan nanti, karena selama mengikuti prosedur dengan baik pasti akan dijamin JKN-KIS,” tutup Luthfi. (rg)