09 Sep 2019
  |  
Dilihat : 16 kali

Klinik Utama Mubarak Bukti Simplisitas SCF

Narasumber : Muttaqi’ah

Hulu Sungai Tengah, Jamkesnews – Seiring berjalannya Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indoinesia Sehat (JKN-KIS), tak dapat dipungkiri terlambatnya pembayaran klaim ke beberapa fasilitas kesehatan (faskes) masih menjadi permasalahan. Masih banyaknya peserta yang menunggak menjadi salah satu penyebab terhambatnya arus dana. Melihat situasi yang ada, BPJS Kesehatan selaku operator program JKN-KIS melakukan terobosan dengan menggandeng beberapa Bank BUMN dan Bank Swasta. Pertengahan Tahun 2018 lalu, BPJS Kesehatan merilis fasilitas Supply Chain Finansing (SCF) kepada faskes sebagai solusi mengatasi permasalahan yang ada.

Hal tersebut tentu saja disambut baik bagi faskes yang memang membutuhkan kelancaran cash flow manajemen keuangannya. Klinik Utama Mubarak merupakan salah satu faskes tingkat rujukan yang merasakan manfaat dari SCF. Menurut penuturan Pimpinan Klinik tersebut Muttaqi’ah, SCF telah dilakukannya sejak November Tahun 2018 lalu. Awalnya, wanita yang akrab disapa Utta ini mengaku bahwa dana yang diterima dari program JKN-KIS sangatlah sentral bagi arus keuangan di kliniknya.

Sebelumnya, Utta menyampaikan bahwa klinik yang ia pimpin telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan sejak Februari 2018 dan masih berjalan hingga saat ini. Ia merasa kerjasama dengan BPJS Kesehatan selama ini sangat baik dan memuaskan. Baik secara komunikasi maupun manfaat, terlebih dalam hal pendanaan.

Bukan tanpa alasan. Dulunya Utta hanya memiliki 5 tempat tidur untuk melayani rawat inap. Seiring berjalannya waktu, banyak Peserta JKN-KIS yang hingga kini telah dilayani. Sehingga kerjasama tersebut membuahkan hasil dimana Klinik Utama Mubarak kini dapat menyediakan 22 tempat tidur.

“Artinya, pengembangan ini sangat ditunjang sekali oleh pendanaan dari BPJS Kesehatan. Dan sekarang juga kunjungan pasien kita yang dulunya sekitar 80 orang perbulan, sekarang Alhamdulillah sudah mencapai 500-600 orang kunjungan perbulannya,” jelasnya.

Utta akui dalam perjalanannya kerjasama itu tak berlangsung mulus seperti yang manajemen harapkan. Yang paling utama adalah kendala dalam hal pembayaran tidak tepat waktu baik klaim untuk rawat inap maupun rawat jalan. Ia pun juga menyadari bahwa permasalahan tersebut menjadi permasalah Program JKN-KIS secara keseluruhan. Namun BPJS Kesehatan tidak tinggal diam. Mereka juga memberikan solusi untuk memecahkannya.

Saat itu, pihaknya dikenalkan dengan program SCF. Kala itu, Utta mendapatkan tawaran dari beberapa Bank terkait kerjasama SCF. Kebetulan pihaknya dikenalkan langsung dan menjatuhkan pilihan pada BRI setempat. “Sampai sekarang kita sudah bekerjasama dengan BRI sejak November 2018 sampai sekarang. Alhamdulillah, semuanya lancar,” terang Utta.

Kemudahan Pengajuan

Klinik Utama Mubarak merasakan betul manfaat dari solusi SCF ini. Utta mengatakan proses kerjasama SCF tersebut sangatlah mudah. Saat mengajukan klaim dana, pihaknya cukup mengajukan ke bank yang telah ia tunjuk. Ketika itu, bank tersebut akan melakukan konfirmasi kepada BPJS Kesehatan untuk persetujuan pembayaran klaim. Setelah bank mendapatkan konfirmasi dari BPJS Kesehatan, pihak bank langsung membayarkan sejumlah dana klaim tersebut ke kliniknya tepat pada hari yang sama. “Sangat mudah dan cepat,” ujar Utta.

Kedepannya, Klinik Utama Mubarak berharap akan selalu bekerjasama secara baik dengan BPJS Kesehatan. Utta menambahkan, pihaknya akan berkomitmen meningkatkan kliniknya menjadi Rumah Sakit Tipe D di tahun 2020. “Dan ini tidak lepas dari kerjasama dan dukungan dari BPJS Kesehatan,” imbuhnya.

Dirinya juga berharap kepada rekan-rekan faskes ataupun rumah sakit lainnya agar dapat mempergunakan fasilitas SCF ini sebagai solusi permasalahan yang ada. Sebab, Klinik Utama Mubarak telah merasakan betul manfaat tersebut tanpa adanya kendala yang berarti. “Selain sangat mudah, ini tidak akan mengganggu operasional rumah sakit,” tutup Utta. (KA/rz)