13 Agt 2019
  |  
Dilihat : 7090 kali

Operasi Gratis Bagi Penderita Katarak Diabetik

Narasumber : Fitriani

Luwuk, Jamkesnews - Warga kelurahan Maahas Kecamatan Luwuk Selatan Fitriaty Abdul Rahman  Tau’e merasa sangat terbantu dengan keikutsertaannya sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional  Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.  Sebab hanya dengan mengantongi Kartu JKN KIS wanita berusia 48 tahun ini tidak sama sekali mengeluarkan biaya untuk menjalani operasi katarak Diabetik di RS Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) di Manado pada oktober 2015 lalu.

Katarak Diabetik merupakan salah satu masalah penglihatan yang paling umum terjadi akibat komplikasi dari diabetes yang tidak terkontrol dengan glaukoma dan retinopati. Katarak adalah lipatan lensa mata, sedangkan diabetes adalah penyakit seumur hidup yang dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menghasilkan atau merespons hormon insulin dengan efektif. Akibatnya, kadar glukosa (gula) dalam darah menjadi tinggi.

“tidak ada sepeserpun  uang pribadi saya diminta untuk operasi pentakit mata tersebut”, kata fitriaty saat dikunjungi dikediamannya senin (12/08).

Tak hanya berobat gratis, peserta JKN KIS non PBI itu mengaku puas dengan pelayanan prima  yang diberikan oleh tenaga medis di RS BKMM. “Dokter yang menangani sangat ramah. Semenjak mereka tahu saya peserta JKN KIS, keluhan saya langsung ditangani dan lebih mengutamakan pelayanan yang prima bagi peserta JKN KIS”. Sambung Fitriary.

Fitriaty juga memiliki pengalaman menarik lainnya saat sakit dan memerlukan pelayanan kesehatan di RSUD Ampana. Fitriaty mengaku mendapatkan pelayanan rawat inap yang bagus dari dokter dan perawat yang merawatnya selama 2 hari. “Pelayanan dokter dan perawat yang menangani saya sangat bagus mereka tidak pilih-pilih dalam pelayanan. Obat yang diresepkan tidak perlu ambil atau antri di apotek tapi sudah ada diruangan” katanya sembari senyum.

Dikisahkan pula bahwa sebelum Fitrianty terdaftar sebagai JKN-KIS, untuk mengobati penyakitnya Fitrianty mengeluarkan biaya yang tidak sedikit yang mencapai 3 juta rupiah untuk pengobatan matanya. Entah berapa banyak biaya yang dikeluarkan lagi saat menjalani operasi ketika tidak menjadi peserta JKN-KIS. Namun sejak menjadi peserta JKN-KIS Fitrianty tidak mengeluarkan biaya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan namun  cukup membayar iuran kelas 1 sebesar Rp.80.000 setiap bulannya.

Dari sekian banyak manfaat yang dirasakan oleh wanita yang terdaftar JKN-KIS semenjak 10 Januari 2014 tersebut, ia berpendapat bahwa Program Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola oleh BPJS Kesehatan adalah program mulia untuk menolong orang lain. “semangat gotong royong yang diusungkan BPJS Kesehatan menjadi solusi masa kini untuk mengatasi biaya kesehatan yang mahal”. Tuturnya.

Konsep pelayanan seperti ini kata Fitriaty sudah seharusnya dipertahankan serta ditingkatkan.

Dia menyarankan kepada setiap orang yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS agar secepatnya mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya agar memperoleh manfaat JKN-KIS serta berbagai pelayanan kesehatan di FKTP dan FKTL .

“Bagi masyarakat yang mau menjadi peserta JKN-KIS  jangan nanti sudah sakit baru mengurus JKN KIS. Sebelum sakit urus memang JKN-KIS dan satu lagi bagi yang sudah terdaftar jangan lupa itu iuran dibayarkan sebelum tanggal 10 bulan berjalan. Proses pendaftaran untuk JKN-KIS dijelaskan Fitriaty sangat mudah dan cepat  asalkan persyaratan JKN-KIS lengkap kita akan dilayani dengan cepat,” pungkasnya.(dt/jh)