06 Agt 2019
  |  
Dilihat : 9851 kali

Lebih Enak Rutin Bayar Iuran Ketimbang Sakit Gak Ada Persiapan

Narasumber : Abdus Salam (32), Suami Dhesi Ana Ari Umami (PBPU/Mandiri)

Probolinggo, Jamkesnews - Perasaan kalut tengah dirasakan Abdus Salam (32) dan keluarga sehari setelah kelahiran anaknya. Sang buah hati mereka mengalami penurunan detak jantung secara tiba-tiba. Perasaan yang semula bahagia lantaran kelahiran kini diselimuti kekhawatiran. “Perasaan kami senang sekali ketika tahu anak kami lahir. Sampai akhirnya dokter mengkonfirmasi kalau kondisi anak kami tak lagi baik. Jantungnya berdetak lemah dan harus dipindah ke ruang perawatan khusus. Seketika itu saya dan keluarga sedih,” cerita Abdu, sapaan akrabnya.

Warga domisili Paiton-Probolinggo ini mengaku tak punya firasat apa pun sebelumnya. Ia tak menyangka jika anak ketiganya harus menjalani perawatan usai sehari dilahirkan. “Gak punya firasat apa-apa. Selama masa kehamilan, istri juga rutin memeriksakan kandungannya. Kami percaya jika kondisi jabang bayi kami dalam kondisi yang baik-baik saja. Perkembangan organ tubuh sampai berat badannya pun menunjukkan peningkatan. Jadi, benar-benar kaget kalau organ anak kami mengalami gangguan,” bebernya.

Bayi yang diberi nama Rafif Aidil Abdussalam ini lahir secara cesar dengan berat 3,085 Kilogram. Ia harus menjalani perawatan intensif di Ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) karena kondisi jantungnya tersebut. Rafif menjalani perawatan selama 3 hari. Kini, kondisinya berangsur pulih. Abdu dan keluarga kembali sumringah. “Setelah 3 hari di ruangan khusus, kondisi anak kami membaik. Dokter mengonfirmasi jika detak jantung Rafif sudah normal kembali. Kami bersyukur masalah anak kami bisa cepat teratasi,” ungkapnya.

Lebih dari itu, Abdu senang lantaran semua biayanya ditanggung BPJS Kesehatan. Tak ada kesulitan yang ia temui selama perawatan istrinya di rumah sakit. Ia mengaku pelayanannya begitu baik sehingga istrinya nyaman selama proses kelahiran. Abdu dan istri merupakan peserta JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat) untuk segmen PBPU/Mandiri kelas III sejak 2017 silam.

“Di sini kami pakai BPJS Kesehatan (Kartu Indonesia Sehat, red). Alhamdulillah, gak ada biaya yang ditagihkan. Memang kami sudah menyiapkan biaya tapi semua tak seberapa. Mungkin lagi masih cari tambahan karena ternyata anak kami butuh perawatan. Yang pasti kami bersyukur sudah ikut BPJS Kesehatan. Lebih enak rutin bayar iuran ketimbang sakit gak ada persiapan,” terangnya.

Jauh sebelum kelahiran, sang istri sudah pernah merasakan kebaikan JKN-KIS. Abdu menceritakan jika sang istri pernah mengidap penyakit kulit parah di sekujur tubuh. Akibatnya, sang istri langsung dilarikan ke rumah sakit. Kala itu, Abdu membawanya ke Rumah Sakit Waluyo Jati, Probolinggo. Selama masa perawatan, kebaikan dan kemudahan layanan juga dirasakan oleh sang istri. Tak ada biaya yang ditagihkan. Kini, beban sakitnya sudah hilang. Sang istri sudah bisa beraktivitas sedia kala.

Di akhir obrolan, Abdu mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu istrinya selama perawatan di rumah sakit, baik di Rumah Sakit Graha Sehat untuk proses kelahiran hingga Rumah Sakit Waluyo Jati saat penyembuhan penyakit kulit. Ia juga mengapresiasi pihak BPJS Kesehatan yang telah menciptakan Program JKN-KIS hingga manfaatnya nyata ia rasakan. Abdu berharap agar semua orang rutin membayar iuran demi sama-sama membantu yang sedang membutuhkan, terlebih agar Program JKN-KIS bisa terus berjalan.