14 Jun 2019
  |  
Dilihat : 198 kali

Ungkapan Syukur Guru Terhadap Program JKN-KIS

Narasumber : Frans Y. K. Palle

Maumere, Jamkesnews - Sedia payung sebelum hujan adalah ungkapan pribahasa yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi saya saat ini. “Ya benar sekali, sebagai seorang guru yang mengabdikan diri untuk mendidik anak murid, saya merasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melalui BPJS Kesehatan menyelenggarakan program JKN-KIS saya mendapat perlindungan jaminan kesehatan yang merupakan hak saya sebagai pekerja,” ungkap Frans Y. K. Palle (46) saat ditemui oleh Tim Jamkesnews di ruang kerjanya. (14/06)

Pak Dan sapaan akrabnya seorang guru yang mengabdikan diri sebagai seorang pendidik pada sebuah sekolah swasta SMA Katolik St. Gabriel di Kabupaten Sikka ini sudah sejak lama menderita Asma. Hal ini menyebakan dirinya rentan terhadap udara yang tidak bersih sehingga ketika sakitnya kambuh ia harus segera mendatangi rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan menggunakan alat bantu pernapasan nebulizer.

Asma merupakan jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas. Selain sulit bernapas, penderita asma juga bisa mengalami gejala lain seperti nyeri dada, batuk-batuk dan menggigil. Asma bisa diderita oleh semua golongan usia, baik muda atau tua. Bagi seseorang yang memiliki penyakit asma, saluran pernapasannya menjadi lebih sensitif dibandingkan orang lain yang tidak hidup dengan kondisi ini.

Sebagai peserta Program JKN-KIS dari segmentasi Pekerja Penerima Upah (PPU) yang didaftarkan oleh perusahaan tempatnya bekerja,  Pak Dan telah mendapat jaminan pelayanan kesehatannya sejak tahun 2015. Awalnya perusahaan terkendala dalam mendaftarkan seluruh pekerjanya ke dalam Program JKN-KIS dikarenakan adanya penolakan dari karyawan untuk didaftarkan dengan alasan merasa tidak pernah sakit sehingga tidak membutuhkan jaminan kesehatan, namun seiring waktu kebutuhan akan jaminan kesehatan bagi karyawan semakin dibutuhkan sehingga seluruhnya akhirnya didaftarkan ke dalam Program JKN-KIS oleh perusahaan.

“Puji Tuhan kartu yang saya pegang ini sudah selalu dalam kondisi aktif karna kami tidak mau telat membayar iuran. Ketika kami telat karena kami lalai dampaknya sangat besar karna disini ada banyak karyawan dan anggota keluarganya yang menggantungkan hidup mereka dengan kartu ini saat mereka sakit. Kalau hanya berharap dari gaji pun tidak akan cukup membiayai sakit apalagi yang sudah berulang-ulang seperti saya ini,” ungkap Pak Dan sambil menunjukan Kartu JKN-KIS yang dipegangnya.

Selain bangga dan dan bersykur telah memiliki jaminan kesehatan, ia merasa iuran yang harus dibayarkan oleh karyawan relatif sangatlah kecil, hanya sebesar 1% dari total gaji bila dibandingkan dengan pengeluaran sehari-hari apalagi biaya saat sakit. Ia juga mengajak seluruh keluarga, tetangga dan masyarakat dilingkungannya agar sadar akan pentingnya jaminan kesehatan dan jangan acuh terhadap hal ini karena saat seseorang menderita sakit yang ringan sekali pun akan terasa mahal apabila biaya dikeluarkan secara pribadi.

“Semoga program ini tetap berjalan karna masih banyak masyarakat diluar sana yang membutuhkan,  dan semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan rahmat dan memberikan kemudahan bagi seluruh karyawan BPJS Kesehatan agar tetap mampu bekerja membantu kami yang membutuhkan jaminan kesehatan ini, terima kasih Program JKN KIS, Tuhan Memberkati,” tutupnya. (ay/cr)