14 Mar 2019
  |  
Dilihat : 654 kali

Kisah Aswadi Kuatkan Hati Istri Jalani Kemoterapi

Narasumber : Aswadi

Prabumulih, Jamkesnews - Nurpani (53), merupakan sosok istri yang setia dan mengayomi keluarganya. Ibu dari 3 orang anak ini harus  dirawat dan menjalani operasi di rumah sakit, karena kanker kelenjar getah bening yang dideritanya pada 2018 lalu. Ternyata ujian hidup keluarga ini tak cukup sampai di situ. Februari 2019 lalu, Nurpani harus menjalani operasi kembali dikarenakan menderita kanker payudara, setelah menjalani enam kali kemoterapi.

Kesetiaan Aswadi (55), suami Nurpani, patut diacungi jempol. Sejak awal hingga saat ini Nurpani masih terbaring lemah di sumah sakit, Aswadi tetap menemani sang istri tercinta. Aswadi mengaku biaya pengobatan istrinya luar biasa banyaknya, namun semua ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

“Saya tidak pernah menyangka kalau istri saya akan sakit seperti ini. Namun, semua itu adalah takdir dari Allah. Biayanya luar biasa mahal. Untuk satu kali kemoterapi saja memakan biaya hingga 18 juta rupiah, apalagi istri saya sampai enam kali dikemoterapi. Alhamdulillah semuanya ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Kami merasa sangat terbantu dengan adanya Program JKN-KIS. Dari awal pengobatan hingga sekarang semua bisa dijalani karena ada JKN KIS yang turut mendampingi kami. Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya ucapan terima kasih untuk BPJS Kesehatan dan Peserta lain yang rutin membayar iuran,” kata Aswadi kepada Tim Jamkesnews dengan mata berkaca-kaca, Rabu (13/03).

Aswadi merupakan sosok kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Ia sangat memikirkan keluarganya, terbukti Aswadi sekeluarga sudah terdaftar menjadi peserta JKN-KIS sejak tahun 2014 silam.

“Dulu awalnya saya mendengar informasi dari radio kalau ada Program JKN-KIS. Kemudian, saya langsung mendaftarkan seluruh keluarga ke Program JKN-KIS itu, ya siap-siap saja kalau tiba-tiba sakit. Sekarang istri saya sedang sakit dan kami memang bertumpu pada Program JKN-KIS ini. Jika tidak ada program ini, mungkin istri saya hanya terbaring lemah di rumah tanpa mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan saya hanya pasrah kepada Allah,” kata Aswadi.

Aswadi sempat membandingkan situasi saat ini dengan sebelum adanya Program JKN-KIS. Menurutnya, dulu berobat menjadi hal yang terasa menakutkan karena tidak ada kepastian biaya. Namun kin dengan kehadiran JKN-KIS, biaya tak lagi menjadi beban pikiran. Aswadi pun berharap, BPJS Kesehatan tetap ada untuk warga Indonesia. Saat ini, berjuta warga negara Indonesia telah menjadi peserta JKN-KIS dan mayoritas telah merasakan manfaatnya. 

“Dulu kalau mau berobat, masyarakat mungkin saja tidak mau karena sudah takut duluan dengan biayanya nanti. Namun, sekarang sudah ada JKN-KIS, masyarakat tidak lagi mengkhawatirkan biaya berobat. Kami sekeluarga berharap agar pemerintah melanjutkan Program JKN-KIS ini. Kami beserta jutaan warga Indonesia lainnya merasa sangat terbantu dengan adanya program mulia ini," tutup Aswadi. (RW/df)