11 Feb 2019
  |  
Dilihat : 108 kali

Iuran Tak Sebanding dengan Manfaat JKN-KIS

Narasumber : Hariyadi-Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) PNS

“Saya sudah terdaftar pada Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sejak tahun 2015. Saya merasa tidak keberatan dengan gaji saya dan isteri saya yang dipotong untuk membayar iuran karena menurut Saya iuran tersebut tidak besar jumlahnya namun manfaatnya dapat membantu sesama.”

 

Jakarta Barat, Jamkesnews - Hariyadi berkunjung ke Kantor BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Barat pada jam 09.00 pagi namun, kurang dari 30 menit dirinya sudah berhasil mendaftarkan dan mendapatkan kartu untuk bayinya yang baru saja lahir pada tanggal 29 Januari 2019. Hariyadi datang ke Kantor Cabang Jakarta Barat karena lokasi kantor lebih dekat dengan rumah sakit tempat isterinya melahirkan, yaitu di Rumah Sakit Kartini di daerah Ciledug.

“Saya tidak lama mengantri untuk proses kartu anak kedua saya. Antriannya sedikit dan playanannya juga tidak repot. Saya baru kali ini datang ke kantor ini dan saya juga tidak merasa kesulitan sama sekali. Sedangkan pelayanan di rumah sakit bagi isteri dan anak saya juga baik. Operasinya berjalan lancar dan sampai saat ini kami tidak memiliki keluhan yang berarti,” ungkap Hariyadi membuka cerita pada tim Jamkesnews, Senin (11/02).

Hariyadi menjelaskan kalau selama ini memang dirinya dan isterinya tidak pernah menggunakan program ini. Namun, Hariyadi merasa yakin dan tidak ada keraguan sedikitpun untuk menggunakan Program JKN-KIS yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan ketika dokter memutuskan untuk isterinya harus menjalani operasi sesar karena kondisi mata minus dan silinder yang diderita oleh isterinya.

“Kami tidak takut menggunakan Program JKN-KIS, yang kami takutkan hanya operasinya saja. Kami tidak takut menggunakan Program JKN-KIS. Begitu tahu harus dioperasi, kami langsung mengurus rujukan dan berobat di puskesmas tempat kami terdaftar dan kemudian diarahkan ke Rumah Sakit Kartini,” jelas Hariyadi.

Hariyadi menceritakan ketika berobat ke Rumah Sakit Kartini, dokter menjadwalkan isterinya untuk operasi pada tanggal 30 Januari 2019, namun isterinya sudah mengalami kontraksi pada tanggal 29 Januari 2019. Sehingga pagi isterinya sudah dibawa ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan, diperiksa, diobservasi, dan tidak lama kemudian dilakukan tindakan operasi.

“Operasi tidak berjalan lama dan isteri saya juga dapat langsung melaksanakan operasi saat itu juga. Kami merasa terbantu dengan Program JKN-KIS. Biaya yang harus kami tanggung akan sangat besar jika kami tidak menggunakan Program JKN-KIS. Sudah seharusnya program ini untuk dilanjutkan. Apalagi yang memakai program ini juga banyak. Sayang masih ada masyarakat kurang peduli, kontribusi juga kurang. Padahal kalau kita hitung-hitung, iuran yang kita bayar tidak sebanding dengan besarnya manfaat yang kita terima,” ujar Hariyadi mengakhiri cerita. (NT/dn)