11 Feb 2019
  |  
Dilihat : 58 kali

Kantongi JKN-KIS Sejak 2014, Roslina Tak Panik Jika Mendadak Sakit

Narasumber : Roslina

Pekalongan, Jamkesnews - Jika ada kabar bahwa pelayanan kesehatan bagi peserta Program JKN-KIS itu sulit, Roslina (64) tak ragu untuk membantahnya. Warga Pekajangan Kabupaten Pekalongan ini sudah menjadi peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah sejak awal diluncurkannya Program JKN-KIS pada tahun 2014 lalu. Roslina mengaku mendaftarkan dirinya sebagai peserta dengan harapan ketika sakit sudah punya jaminan.

"Sakit itu tidak terduga waktunya, bisa kapan saja. Kalau sudah punya JKN-KIS, jadi tidak perlu panik bila mendadak jatuh sakit. Tinggal Kalau pun saya tidak menggunakan, berarti saya membantu peserta lain yang sakit,”  tutur Roslina, Senin (11/02).

Tahun 2018 ini, Roslina sudah tiga kali diopname di Rumah Sakit Muhammadiyah Pekajangan. Semuanya ia jalani dengan memanfaatkan kartu JKN-KIS. Menurut diagnosa dokter, Roslina menderita batu empedu dan memerlukan tindakan operasi untuk mengeluarkan batu empedunya. Karena kondisi usianya di atas 70 tahun dan ada komplikasi dengan penyakit lain, maka Roslina dirujuk ke Rumah Sakit Kariadi Semarang.

Awalnya Roslina sempat ragu, apakah biaya operasinya juga ditanggung oleh BPJS Kesehatan atau tidak. Menurut informasi yang ia dengar, apabila menggunakan biaya sendiri, tagihan operasinya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Ia mengaku sempat gentar, namun dengan dukungan keluarga, ia pun melanjutkan tahap operasi. Setelah menjalani, Roslina sangat bersyukur, dari tiga kali tindakan operasi di Rumah Sakit Kariadi, biayanya dijamin oleh BPJS Kesehatan.

“Operasi batu empedu saya sampai tiga kali tindakan dan menurut petugas rumah sakit  biayanya di atas 50 juta rupiah. Saya hanya keluar iur biaya sekitar 5 juta rupiah, karena pilih kelas perawatan yang lebih tinggi. Bayangkan, yang 45 jutaan itu semuanya dijamin oleh BPJS Kesehatan. Saya merasa sangat terbantu sekali dengan adanya Program JKN-KIS ini. Pada tahun 1987, saya pernah operasi ginjal, saat itu biaya yang saya keluarkan mencapai puluhan juta rupiah dan menggunakan biaya sendiri, karena belum ada jaminan kesehatan seperti sekarang ini," tuturnya.

Roslina berharap, Program JKN-KIS dapat berlangsung selamanya dan pelayannnya semakin baik, sehingga makin banyak masyarakat yang bisa merasakan pelayanan kesehatan yang berkualitas tanpa dibeda-bedakan.

"Saya melihat banyak tetangga saya yang menjual rumahnya untuk biaya pengobatan di rumah sakit. Berbeda dengan sekarang semenjak adanya Program JKN-KIS ini, sangat membantu masyarakat, jarang sekali kita mendengar orang menjual rumah untuk biaya pengobatan. Yang terpenting, sehat itu mahal, jadi kita harus jaga baik-baik kesehatan kita," ungkap Roslina.

 (ma/ey)