01 Feb 2019
  |  
Dilihat : 41490 kali

JKN-KIS Penting dan Bermanfaat Untuk Segala Usia

Narasumber : Islakhul Finna Yuristia (18)

Pasuruan, Jamkesnews - Semua orang tentu tidak ingin sakit, tak terkecuali bagi Islakhul Finna Yuristia (18) atau Finna sapaan akrabnya, seorang remaja asal Pandaan Pasuruan yang harus hidup jauh dari orang tua ketika memutuskan kuliah di Kota Malang. Tak ingin menambah beban orang tuanya mengingat kebutuhan kuliahnya sudah cukup mahal, Finna selalu berusaha untuk menjaga kesehatannya. Namun ternyata datangnya sakit tak bisa dicegah dan tak bisa diduga. Suatu hari Finna mengalami sakit perut yang teramat sangat dan muntah-muntah. Nafsu makannya juga terus menurun. Sadar akan kondisi tubuhnya yang semakin lemah,  maka berbekal Kartu JKN–KIS yang dimilikinya Finna segera pergi ke klinik. Dan hasilnya dokter mendiagnosa Finna terkena gejala usus buntu.

“Gejala itu mulai saya rasakan di Malang. Saya sering mual, muntah dan tak nafsu makan. Takut lebih parah, saya segera periksa dengan menggunakan kartu JKN-KIS. Dan ternyata dokter bilang ini gejala usus buntu. Saya sangat kaget dan langsung berpikir biaya yang harus dikeluarkan jika harus sampai operasi. Kasihan orang tua saya nanti harus mencari biaya lagi, untuk biaya kuliah saya saja mereka sudah melakukan segala upaya,” ujar Finna ketika ditemui di kediamannya.

Setelah dua kali menjalani pemeriksaan dan pengobatan, dokter memutuskan agar Finna segera dioperasi. Kekhawatiran yang Finna rasakan tempo hari akhirnya benar-benar terjadi. Ia harus menjalani operasi usus buntu. 

“Saya kaget mendengar dokter memutuskan untuk operasi. Selain takut dioperasi, saya juga langsung memikirkan biayanya dan kesulitan orang tua seperti yang sebelumnya pernah saya khawatirkan.  Tapi akhirnya setelah berunding dengan orang tua dan melihat kondisi kesehatan saya, akhirnya saya mantap melakukan operasi menggunakan Kartu JKN–KIS,” terangnya.

Beberapa waktu setelah operasi selesai, Finna menanyakan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh orang tuanya. Setelah mendengar penjelasan orang tuanya, rasa haru dan lega menyelimuti perasaan Finna kala itu. Ia bersyukur karena biaya operasinya seluruhnya dijamin BPJS Kesehatan.

“Setelah operasi, saya coba menanyakan soal biaya operasi kepada orang tua saya. Agak heran juga ketika menanyakan hal ini saya tak melihat wajah muram dari orang tua saya saat itu. Lantas orang tua saya  bercerita kalau biaya operasi saya mencapai sekitar 15 juta rupiah dan seluruhnya dijamin Program JKN–KIS  sehingga tidak ada biaya sepeser pun yang perlu dikeluarkan orang tua saya. Saya langsung merasa lega dan bersyukur sekali mendengar itu, ternyata JKN–KIS ini benar – benar membantu. Saya tidak menyangka semuanya dijamin. Saya membayangkan jika biaya sebesar itu harus ditanggung oleh orang tua saya apa jadinya, memenuhi  keperluan sehari – hari dan keperluan kuliah saya saja sudah begitu banyak,” kenangnya.

Finna melanjutkan ceritanya tentang keikutsertaannya dalam program JKN-KIS. “Saya ikut Program JKN–KIS ini dari bulan Juni 2017 mengikuti kepesertaan ayah  yang didaftarkan oleh perusahaannya sebagai peserta JKN-KIS segmen Pekerja Penerima Upah (PPU). Sekarang  saya jadi mengerti kalau ternyata program JKN-KIS memang menjamin biaya kesehatan pesertanya sehingga tidak perlu khawatir jika sewaktu-waktu jatuh sakit. Tapi yang utama kita harus selalu menjaga kesehatan supaya tidak sakit. Sakit itu kan sama sekali tidak enak walaupun biayanya terjamin oleh JKN-KIS,” imbuhnya.

Di akhir perbincangan, Finna berharap Program JKN–KIS dapat terus berjalan. Ia sadar akan penting dan manfaat jaminan kesehatan bagi setiap orang, tidak peduli usia tua, muda atau bahkan anak-anak dan bayi yang baru lahir. Oleh karenanya Finna mengajak siapapun untuk segera menjadi peserta JKN–KIS.

“Setelah merasakan betul manfaat JKN–KIS, saya harap program ini dapat terus berlangsung karena terbukti banyak sekali membantu pesertanya, salah satunya saya. Program yang benar – benar top. Terima kasih JKN–KIS,” tutupnya. (ar/ak)