09 Agt 2019
  |  
Dilihat : 51 kali

Faskes Wajib Penuhi Komitmen Pelaksanaan PRB MTM

Bantul, Jamkesnews – BPJS Kesehatan Cabang Yogyakarta masih menemukan adanya permasalahan dalam pelaksanaan Program Rujuk Balik berbasis Medication Therapy Management (PRB MTM). Fasilitas kesehatan diharapkan mampu memenuhi komitmen yang disepakati agar program ini berjalan lebih optimal. Permasalahan yang dimaksud di antaranya adalah peserta yang dirujuk balik tidak memenuhi kriteria 3B, yakni benar kondisinya stabil, benar diagnosa PRB dan benar obat PRB.

Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kesehatan Cabang Yogyakarta Fatma Kurniawati mengatakan penerapan PRB MTM ini menekankan adanya integrasi peran FKRTL, FKTP dan apotek. Melalui MTM, FKTP tidak lagi menyalin ulang dosis resep dari dokter spesialis, tetapi ikut memantau kondisi peserta, mengedukasi dan mengelola. Sedangkan apotek PRB wajib memastikan peserta menggunakan obat secara tepat, benar dan disiplin.

”Memang diperlukan komitmen yang tinggi dari fasilitas kesehatan agar PRB MTM ini berjalan dengan baik,” katanya dalam kegiatan Evaluasi Pelaksanaan PRB MTM, di Bantul, Jumat (09/08). Kegiatan ini dihadiri oleh PIC PRB FKTP, FKRTL dan Apotek.

Dia menjelaskan, ketidaksesuaian kriteria untuk peserta PRB ini sedikit menghambat optimalisasi pelaksanaan PRB MTM. Peserta yang dirujuk balik ternyata masih diperlukan kontrol ulang ke rumah sakit baik itu karena diagnosa PRB nya ataupun ada diagnosa penyerta. Ditemukan juga peserta yang dirujuk balik tetapi diresepkan obat utama di luar Formularium Nasional untuk PRB. Untuk itu, pihaknya menghimbau agar masing-masing PIC FKTP berkoordinasi dengan PIC FKRTL untuk memastikan kembali kriteria 3B ini.

”Kami menyebutnya 5 Siap yakni FKTP siap, peserta siap, FKRTL siap, apotek siap dan obatnya juga siap,” ungkapnya.

Fatma menambahkan pihaknya berencana untuk menggandeng satu apotek yang akan dijadikan sebagai apotek pendamping agar PRB MTM ini lebih efektif. Apotek pendamping tersebut dapat dijalin dari apotek yang sudah bekerja sama ataupun apotek baru. Apotek pendamping ini hanya menerima resep pengalihan dari apotek mapping utama.

”Apotek pendamping ini wajib berkomitmen menyediakan semua jenis obat PRB termasuk patennya. Karena jika dalam satu resep ada item obat yang tidak tersedia di apotek utama, maka resep tersebut seluruhnya dialikan ke apotek pendamping,” tegas Fatma. 

Sementara itu, PIC PRB Puskesmas Imogiri 2, dr. Rina, mengatakan, pihaknya akan berusaha untuk tetap memegang komitmen pelaksanaan PRB MTM. Pasien rujuk balik akan ditangani seoptimal mungkin sehingga kondisinya tetap stabil. Dia berharap, keberhasilan program ini didukung dengan ketersediaan obat.

”Kami mendukung program ini. Mudah-mudahan ke depan lebih tertata lagi,” katanya.(ma/dw)