11 Jul 2019
  |  
Dilihat : 12 kali

Dengan Mentoring Spesialis, Kompetensi Dokter FKTP Diperluas

Jakarta Timur, Jamkesnews - BPJS Kesehatan secara kontinyu terus mengembangkan sistem kendali mutu pelayanan. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) harus memiliki komitmen pelayanan untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui pencapaian indikator pelayanan kesehatan perorangan, antara lain adalah kasus rujukan non spesialistik dan pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) demi meningkatkan kepuasan peserta JKN-KIS terhadap Program JKN-KIS. Untuk menunjang hal tersebut, BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Timur menyelenggarakan kegiatan Mentoring Spesialis dari Dokter Spesialis di FKRTL bagi Dokter Layanan Primer Di FKTP Provider, Kamis (11/07).

“Bentuk kegiatan berupa pertemuan dan diskusi yang membahas kasus untuk penanganan peserta dengan diagnosa diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi dengan dokter pembina (dokter spesialis) dari organisasi profesi atau dari Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL),” ucap Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Timur Erika Verayanti Lumban Gaol.

Erika menambahkan bahwa setelah diadakannya pertemuan ini diupayakan dalam 1 kelompok mentoring tersebut keanggotaannya bersifat tetap, yaitu dokter FKTP pengelola Prolanis dan 1 dokter spesialis pembina sehingga mentoring yang dilakukan tidak hanya pada pertemuan ini namun bisa berkelanjutan. Mentoring kali ini diikuti oleh 2 Puskesmas yaitu Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo dan Puskesmas Kecamatan Keramat Jati.

“Kegiatan ini sangatlah bermanfaat, BPJS Kesehatan menjembatani jejaring komunikasi antara dokter spesialis di FKRTL dengan dokter layanan primer di FKTP guna meningkatkan kompetensi dokter layanan primer di FKTP sehingga pasien yang ditangani mendapatkan pelayanan yang semakin baik,” ujar dokter RSUD Budhi Asih, Agasjtya Wisjnu Wardhana, yang mengisi materi pada pertemuan tersebut.

Agasjtya mengatakan bahwa materi kali ini terkait diagnosa diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi, dikarenakan 2 diagnosa ini cukup tinggi penderitanya di Indonesia dan cukup memakan biaya pada Program JKN-KIS beberapa tahun terakhir ini, diharapkan dengan adanya pertemuan ini 2 diagnosa tersebut dapat dicegah kemungkinan terjadi pada penderita dengan menerapkan pola hidup sehat.(PG/cp)