11 Jul 2019
  |  
Dilihat : 224 kali

GOTONG ROYONG MEMBANTU YANG SAKIT MELALUI BPJS KESEHATAN

Watampone, Jamkesnews - Mengapa setiap penduduk perlu memilik Jaminan Kesehatan? Mengapa saya saya harus menjadi peserta JKN-KIS? Kenapa ada istilah Gotong Royong dalam Program JKN-KIS? Begitulah beberapa pertanyaan yang sering kita jumpai di lapangan terkait dinamika perjalanan Program JKN-KIS sejak dicanangkan oleh Pemerintah pada 1 Januari 2014 lalu.

BPJS Kesehatan sebagai Badan Hukum Publik yang dibentuk Pemerintah dan bertanggung jawab kepada Presiden untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional.  Adapun Jaminan Kesehatan yang diberikan adalah Jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan dan perlindungan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah.

BPJS Kesehatan sendiri membutuhkan sinergi dan keterlibatan semua pihak dalam upaya menyampaikan Program JKN-KIS di tengah-tengah masyarakat diantaranya melalui Sosialisasi Program JKN-KIS Kepada Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat di Desa Towalida Kecamatan Sajoanging Kab. Wajo Propinsi Sulawesi Selatan, Selasa (09/07).

Ditemui setelah menyampaikan materinya Staf Perluasan Peserta dan Kepatuhan Kabupaten Wajo Zulfika Tabara, kegiatan sosialisasi ke tokoh masyarakat dan tokoh agama ini sangat baik dan efektif untuk penyebaran informasi mengenai Program JKN-KIS kepada masyarakat.

"Diharapkan dengan hadirnya tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah desa dapat menyebarkan info-info mengenai Program JKN-KIS kepada seluruh lapisan masyarakat. Sehingga mendorong pencapaian rekrutmen peserta dan membuat citra BPJS Kesehatan di masyarakat dan pemda semakin baik,” tutur Zulfika. 

Sementara itu, Kepala Desa Towalida, Nurdin Hamzam sangat menyambut baik dengan adanya kegiatan Sosialisasi ini.

“Terima kasih kepada pihak BPJS Kesehatan yang telah melakukan sosialisasi seperti ini, supaya masyarakat memahami dan mengerti. Sehingga masyarakat sadar bahwa ikut tergabung menjadi Program JKN-KIS berarti ikut membantu masyarakat yang lain yang sedang sakit, jadi, bukan berarti kalau tidak dipakai itu tidak ada manfaatnya, namun disinilah sebenarnya gotong royong itu, dimana dengan iuran yang kita bayarkan akan bermanfaat untuk membantu peserta yang saat ini sedang sakit," kata Nurdin 

Nurdin menjelaskan perbandingan biaya berobat seperti contohnya biaya pelayanan, pasien sakit demam berdarah dibantu oleh kurang lebih 80 orang peserta JKN-KIS yang sehat, begitu pula biaya pengobatan untuk 1 pasien kanker yang dibantu oleh lebih banyak lagi peserta yang sehat.

"Nah, hal-hal seperti inilah yang kiranya masyarakat masih perlu disadarkan pemahamannya,” tutupnya.