01 Nov 2018
  |  
Dilihat : 21 kali

Cegah Infeksi Nosokomial dengan Cuci Tangan

 

Selain sebagai tempat untuk merawat orang yang sakit, rumah sakit juga bisa menjadi sumber berkembang biaknya kuman berbahaya penyebab infeksi nosokomial.

Infeksi ini merupakan sebutan untuk infeksi yang didapat selama masa perawatan atau pemeriksaan di rumah sakit, tanpa adanya tanda-tanda infeksi sebelumnya. Infeksi nosokomial umumnya terjadi 48 jam sesudah masuknya kuman di rumah sakit.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Subandrio memaparkan, proses penularan infeksi nosokomial bisa terjadi lewat berbagai cara. Bisa lewat interaksi langsung maupun tidak langsung antara petugas medis kepada pasien, antara pasien satu kepada pasien lain, pasien kepada orang yang berkunjung, maupun sebaliknya.

“Penularan infeksi nosokomial bisa melalui kontak langsung, melalui udara, peralatan medis, atau melalui percikan. Tidak hanya pasien, infeksi ini juga rentan menyerang tenaga pasien maupun pengunjung rumah sakit,” paparnya.

Prof Amin menambahkan, infeksi nosokomial juga lebih berisiko didapatkan dari mikroba yang sudah resisten atau kebal dengan antibiotik, sehingga lebih membahayakan. Karenanya, perlu kewaspadaan dari semua orang yang ada di rumah sakit dengan selalu melakukan langkah-langkah pencegahan.

Cuci Tangan Pakai Sabun
Menurut Prof Amin, infeksi nosokomial sebenarnya bisa dicegah dengan cara sederhana melalui kebiasaan cuci tangan. Namun kegiatan mencuci tangan ini harus dilakukan dengan benar menggunakan sabun atau cairan berbasis alkohol.

“Untuk mencegah perpindahan mikroba melalui kontak langsung, sangat dianjurkan bagi setiap pengunjung rumah sakit untuk selalu membersihkan tangan pakai sabun, atau cairan alkohol yang banyak disediakan di rumah sakit. Untuk penularan lewat udara juga bisa dicegah melalui penggunaan masker,” papar Prof Amin.

Untuk tenaga kesehatan, prosedur pencegahan infeksi nosokomial harus dilakukan dengan lebih ketat. Pasalnya
tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam terjadinya transmisi mikroba pathogen dari pasien ke pasien, serta dari pasien ke petugas.

Dijelaskan Prof Amin, ada lima momen cuci tangan yang harus dipatuhi seluruh tenaga kesehatan di rumah sakit untuk mengurangi risiko penularan infeksi nosokomial, yaitu sebelum bersentuhan dengan pasien, sebelum melakukan prosedur bersih/steril, setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien, setelah bersentuhan dengan pasien, dan setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien.

“Untuk tenaga kesehatan, upaya pencegahan juga harus ditambah dengan penggunaan sarung tangan, masker, topi untuk menutup rambut dan kulit kepala, serta penggunaan pakaian khusus,” terangnya.

Yang juga perlu menjadi perhatian adalah kebersihan lingkungan rumah sakit. Pembersihan rutin harus dilakukan setiap hari. Selain itu, pengelolaan sampah rumah sakit juga memerlukan penanganan yang khusus.

“Penanganan limbah rumah sakit harus dilakukan dengan baik. Misalnya untuk jarum suntik, harus dibuang di tempat khusus untuk benda tajam. Sampah di rumah sakit juga harus dibedakan antara yang infeksius dan non-infeksius. Untuk yang infeksius harus segera dimusnahkan,” pesan Prof Amin.