29 Okt 2018
  |  
Dilihat : 29 kali

Berwisata Jadi Kebutuhan Publik

Wuihh bagusnya…. Subhanallah… Indah sekali…. Dan bermacam-macam ungkapan rasa kagum terhadap indahnya pemandangan ketika rombongan sebuah bis wisata turun di pelataran Kawah Kaulin di Pulau Bangka. Kawah Kaulin yang terbentuk akibat penambangan timah. Kini, sisa-sisa lubang-lubang besar seperti kawah itu terisi air berwarna kebiruan.

“Oooh mirip di Turki,” kata salah seorang pengunjung.

“Foto-foto dong, disini nih. Ayo, ayo, foto, kelihatan kawahnya ya..” kata pengungjung lainnya.

Begitulah kegembiraan yang terekam saat menyaksikan wisatawan-wisatawan takjub pada indahnya panorama lokasi yang dikunjunginya. Hampir semua orang yang berwisata terkesan tak lagi memiliki beban pekerjaan atau beban hidup yang berat. Bisa dimaklumi bahwa rutinitas sehari-hari menimbulkan rasa jenuh dan penat.

Sehingga saat berwisata dapat memberi waktu dan ruang untuk melepaskan diri dari kepenatan rutinitas. Seiring dengan kemajuan zaman, berwisata kini sudah menjadi bagian dari kebutuhan sebagian masyarakat Indonesia dari semua strata. Tidak hanya dari kalangan yang berduit saja, tetapi juga kebutuhan bagi kelompok ekonomi menengah dan bawah.

Seorang wisatan domestik asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Unik Samso mengaku keluarganya sengaja meluangkan waktu untuk berwisata saat liburan sekolah. Saat itu, keluarga besarnya sebanyak 23 orang sepakat mengunjungi Pulau Bangka. Selama dua hari di sana merupakan waktu yang sangat berharga atau “quality time” bersama keluarga tercinta dan kata anak muda menjadi ”me time” banget.

Kebutuhan berwisata ini menunjukkan peningkatan. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan tahun 2014 jumlah wisatawan domesktik mencapai 251 juta orang. Sedangkan Litbang Kompas menyebutkan 1.200 responden dari 33 provinsi di Indonesia mengaku pernah berwisata sedikitnya sekali setahun dan satu dari lima responden menyatakan rutin berwisata dua hingga tiga kali dalam setahun.

Adanya tren peningkatan kebutuhan wisata, boleh disebut berwisata sudah bergeser menjadi suatu kebutuhan gaya hidup. Berbagai pendukungnya seperti fasilitas dan akomodasi saat ini juga berkembang pesat. Kecanggihan teknologi informasi juga mempermudah calon wisatawan untuk mendapatkan informasi soal destinasi wisata dan informasi lainnya.

Sejumlah biro perjalanan menyediakan paket-paket wisata. Jadi, tinggal memilih ingin kemana tujuannya, biro perjalanan akan mengaturnya. Sebagian kelompok wisatawan tidak menggunakan paket wisata, tetapi semua memesan dan mengatur sendiri sesuai kebutuhannya. Seperti yang dilakukan Mahasti. Untuk mengatur perjalanan wisata menuju Pulau Bangka dari Jakarta yang diikuti 23 orang, dia bersama Shinta dan Disa, mengaku browsing untuk mendapatkan informasi. Kemudian dibantu travel lokal di Bangka. Jadilah, perjalanan yang menyenangkan. Sudah dua kali selama dua tahun ini keluarganya berwisata bersama. Alasannya untuk refreshing dan memperkuat silaturahmi karena hari-hari biasa masing-masing mempunyai kesibukan yang sulit diganggu.

Sebagian masyarakat kelas ekonomi atas, berwisata menjadi bagian dari gaya hidup yang bergengsi. Mereka memiliki anggaran yang cukup sehingga rencana wisata dirancang secara matang. Bepergian ke luar negeri menjadi salah satu yang dapat menunjukkan prestise seseorang, karena mengisyaratkan bahwa orang tersebut memiliki uang yang cukup.

Gaya hidup berwisata itu dapat mendorong sebagian kalangan untuk menabung agar dapat berwisata ke manca negara atau tempat-tempat wisata di Indonesia yang memerlukan anggaran besar, karena posisinya yang jauh dari asal tempat tinggal wisatawan tersebut. Sehingga kalangan ekonomi menengah dan bawah pun mulai menunjukkan kebutuhan berwisata, disesuaikan dengan anggaran yang dimilikinya.

Di era smartphone, kebahagiaan saat berwisata kini bisa terekam dengan mudah. Berfoto dengan latar belakang pemandangan lokasi wisata menjadi “sesuatu” yang sulit dilupakan. Apalagi foto-foto itu diupload atau diposting melalui media social (sosmed) seperti facebook, instagram dan sosmed lainnya. Selain menjadi kenangan indah, teman-temannya dan masyarakat menjadi tahu orang tersebut berwisata kemana. Dan bisa menjadi “virus” sehingga oranglain ingin berwisata di tempat tersebut.

Sebagai destinasi wisata umumnya adalah tempat yang memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri. Sebagian besar masyarakat tertarik berwisata ke lokasi berpanorama alam yang indah alami seperti alam pegunungan dan pantai karena bisa dinikmati oleh siapa saja. Sebagian masyarakat memilih wisata religi seperti mengunjungi makam-makam wali, Gua Maria, kelenteng kuno, dan mengunjungi kota-kota bersejarah yang dilengkapi bangunan-bangunan kono.

Peningkatan tren berwisata di Indonesia ini menunjukkan bahwa berwisata sudah menjadi gaya hidup dan kebutuhan publik. Kondisi ini bisa menjadi peluang usaha di bidang pariwisata. Di sisi lain, mendorong masyarakat untuk menabung agar dapat menikmati perjalanan wisata yang diinginkan. Sedangkan dari sisi kesehatan jiwa, berwisata dapat menjadi obat penawar stress. Kebahagiaan selama berwisata dapat tersimpan dalam memori sebagai kenangan yang sulit dilupakan.