24 Okt 2018
  |  
Dilihat : 24 kali

No Sarang Nyamuk Bye-bye Demam Berdarah

Di sejumlah daerah, petugas pemantau jentik nyamuk (Jumantik) secara rutin mendatangi rumah warga untuk memastikan bahwa di lingkungan rumah warga benar-benar bersih atau tidak ada jentik nyamuk Aedes Aegypti yang bersarang. Nyamuk bercorak bintik-bintik ini menjadi perantara penyebaran virus dengue melalui gigitannya dari manusia satu ke manusia lainnya, hingga akhirnya seseorang terjangkit penyakit demam berdarah dengue atau lebih popular dengan nama DBD.

Jika nyamuk Aedes Aegypti menggigit manusia yang sudah terinfeksi virus dengue maka nyamuk tersebut akan menghisap virus dengue masuk ke dalam tubuhnya. Kemudian virus dengue akan berkembang biak ke dalam kelenjar air liur nyamuk selama beberapa hari. Setelah itu, nyamuk Aedes Aegypti menularkan virus dengue kepada manusia lain melalui gigitannya.

Untuk memutus mata rantai penularan DBD yang efektif adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk. Para Jumantik biasanya memeriksa tempat-tempat yang disukai nyamuk Aedes Aegipty untuk berkembang biak. Tempat itu antara lain, bak mandi, penampungan sisa air lemari pendingin atau kulkas, penampungan air dispenser air mineral, dan kaleng-kaleng bekas yang bisa digenangi air hujan.

Jika dibiarkan maka populasi nyamuk Aedes Aegyptinya semakin banyak, berarti semakin besar potensi menularkan virus dengue dan jika tidak waspada maka bisa terjadi wabah demam berdarah dengue (DBD). Penyakit DBD bisa datang kapan saja dan tidak memandang siapa sasarannya bisa orang miskin atau pun orang kaya, Penderita pun tidak pernah tahu di mana tertularnya dan digigit oleh nyamuk yang mana. Penyakit DBD masih menjadi ancaman yang menakutkan karena sudah banyak korban meninggal dunia.

Orang yang terjangkit DBD biasanya mengalami sejumlah gejala setelah terinfeksi virus dengue selama 3 hingga 14 hari. Gejala umumnya adalah demam. Suhu tubuh tiba-tiba tinggi mendadak selama 2 hingga 7 hari berturut-turut. Gejala lainnya yang menyertai demam dengue antara lain mual, muntah, nyeri kepala, lemah, lesu, nyeri otot dan sendi, perdarahan spontan, serta ruam kulit.

Pada hari ke-3 hingga ke-5 demam akan reda. Namun di fase inilah yang paling berbahaya karena puncak terjadinya kebocoran plasma akibat reaksi antigen-antibodi. Akibatnya hematokrit akan meningkat dan trombosit akan turun drastis karena trombosit digunakan untuk menyumbat kebocoran tersebut. Menurut Dr Hindra Irawan Satari, SpA(K), M.TropPaed. dari FK-UI, jika trombosit turun sampai tinggal belasan ribu tetapi hematokrit (konsentrasi darah merah) masih bagus, penderita DBD bisa selamat, karena tingkat kebocoran pembuluh darah tidak tinggi.

Jika Anda mengalami gejala-gejala mirip penyakit DBD, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Bagi peserta JKN-KIS bisa segera periksa dan konsultasi ke dokter keluarga di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Bagi penderita DBD ringan bisa dirawat di rumah. Namun, selama mengalami demam sebaiknya perbanyak konsumsi cairan seperti air putih, jus buah (jambu biji lebih baik), kuah sayur, dan sebagainya. Konsumsi minum takperlu menunggu rasa haus karena selama demam tubuh memerlukan asupan cairan. Untuk mengetahui kebutuhan cairan sudah terpenuhi, antara lain buang air kecil setiap 4-6 jam sekali dan urin tak berwarna atau bening.

Selain itu, mengkonsumsi paracetamol sebagai obat penurun demam sesuai dosis yang dianjurkan dokter, jika demam masih berlangsung konsumsi paracetamol bisa diulang setiap empat hingga enam jam. Perawatan di rumah tetap perlu pengawasan ketat dan perlu diperhatikan tanda-tanda bahaya dengue.

Jika terjadi tanda bahaya maka harus segera ke dokter dan lebih baik dirawat di rumah sakit. Tanda bahaya itu antara lain, suhu turun tetapi keadaan memburuk, nyeri perut hebat, muntah-muntah secara terus menerus, tangan-kaki dingin dan lembab, gelisah dan tampak lemas, terjadi perdarahan spontan seperti mimisan, gusi berdarah, buang air besar berwarna hitam, sesak nafas, tidak buang air kecil lebih dari empat hingga enam jam, dan mengalami kejang.

Untuk melakukan pencegahan, hingga kini belum ada vaksin yang dapat mencegah terjangkitnya virus dengue. Oleh karena itu, pencegahan bisa dilakukan antara lain dengan cara mambasmi sarang nyamuk. Agar nyamuk Aedes Aegypti tidak berkembang biak, jangan membiarkan berbagai wadah yang tergenang air tidak mengalir. Mengganti air dalam bak mandi secara rutin, bersihkan wadah seperti ember, pot, dan wadah lainnya yang digenangi air dan taruhlah secara terbalik (bagian lubang di bawah agar tidak digenangi air. Jika sengaja menyimpan air, tutuplah wadah air itu rapat.

Jika diperlukan bisa menggunakan abate untuk mencegah berkembangbiaknya jentik nyamuk. Untuk menghindari gigitan nyamuk bisa menggunakan obat nyamuk oles atau bakar, dan menggunakan kelambu saat tidur. Ada juga yang menggunakan kapur barus atau kamper untuk menjauhkan nyamuk. Caranya, bakar kapur barus di sebuah ruangan dan tutup jendela serta pintu selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu ruangan akan terbebas dari nyamuk.

Hal yang terpenting untuk mencegah penularan virus dengue dengan cara tidak memberi kesempatan nyamuk Aedes Aegypti berkembangbiak. Apalagi saat ini, musim hujan, bergantian musim, dan kondisi musim tidak menentu. Kondisi ini mendukung hadirnya berbagai penyakit termasuk demam berdarah dengue.

Jadi, jangan ditunda lagi, menjaga kebersihan melalukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Menjaga lingkungan selalu bersih sehingga tidak ada lagi peluang bagi nyamuk berkembang biak. Dengan langkah jitu itu, penyakit DBD dapat dikendalikan. Kehadiran petugas Jumantik di tengah warga, akan membantu pengendalian penyakit DBD secara berkesinambungan. Karena nyamuk Aedes Aegypti masih terus ada setiap saat dan siap menggigit manusia kapan saja.

Ayo, menjalani pola hidup bersih dan sehat. Dengan membasmi sarang nyamuk maka selamat tinggal demam berdarah. Bye bye DBD.