03 Okt 2017
  |  
Dilihat : 409 kali

Jangan Anggap Sepele Depresi

Sebagian besar orang sering menganggap depresi bukanlah masalah medis, bukan masalah serius  yang harus segera ditangani. Bahkan mungkin di antara kita akan menyangka bahwa orang yang mengalami depresi hanya cari perhatian saja, atau kurang bersyukur dengan hidupnya, dan lain-lain. Stigma dan pandangan seperti inilah yang membuat kita kerap mengabaikan depresi.

 

Padahal depresi bukan masalah sepele. Hari Kesehatan Sedunia tahun ini mengambil tema Depression: Let''s Talk, atau diterjemahkan Depresi: Yuk Curhat. Tema Depresi ini diambil Badan Kesehatan Dunia (WHO) bukan tanpa alasan.

 

WHO memperkirakan bahwa depresi akan menjadi beban global nomor dua setelah gangguan jantung dan pembuluh darah di tahun 2020 dan tetap akan menjadi masalah global sampai 2030 nanti setelah HIV/AIDS. Ini menandakan bahwa masalah gangguan jiwa seperti depresi adalah masalah yang tidak bisa dianggap enteng.

 

Psikiater sekaligus Ketua Perhimpunan Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Danardi Sosrosumihardjo  menjelaskan, setiap orang perlu mengenali dan memahami gejala depresi. Depresi disebabkan oleh emosi yang menurun. Pada tahap ringan depresi biasanya ditandai dengan gejala seperti lekas tersinggung, murung, sedih, merasa cemas, menangis terus menerus, dan pesimis. Dalam kondisi sedang, depresi menunjukkan gejala penurunan produktifitas, aktifitas terganggu, tidak ingin bertemu orang, hilang napsu makan, dan selalu pesimis.

 

Bila depresi ringan dan sedang ini tidak diatasi dengan baik, bisa berkembang menjadi depresi berat dan berpotensi skizofrenia atau gangguan mental kronis. Dalam tahap depresi ini penderita bisa melakukan hal-hal nekat, seperti bunuh diri.

 

“Kalau kita mengenali gejala depresi, maka untuk keluar dari masalah depresi itu lebih mudah dan cepat,”  ujar Danardi di Jakarta, baru-baru ini.

 

Seperti penyakit fisik, depresi juga perlu diobati. Pengobatan depresi sulit dilakukan jika penderitanya sendiri tidak menyadari dan mengakui dirinya mengalami penurunan emosi. Curhat atau menyatakan perasaan tentang masalah yang dihadapi adalah langkah awal yang baik untuk keluar dari depresi.

 

Bersedia bicara dengan orang lain saja sudah merupakan terapi. Jangan malu atau takut untuk bicara dengan orang lain, terutam orang terdekat. Depresi paling rentan terjadi pada orang yang berkepribadian introvert, yaitu pendiam dan pemalu.

 

Persoalannya, kebanyakan mereka yang ditemui malah menganggap depresi hanya karena orang tersebut kurang bersyukur, tidak beriman, berlebihan, kurang bahagia, suka menggerutu, dan lain-lain. Mereka sudah berbicara tapi tidak didengarkan, pembicaraannya dipotong atau malah dinasehati dan disalahkan. Stigma dan anggapan buruk seperti inilah yang kadang menyebabkan penderita depresi enggan menceritakan masalahnya kepada orang lain. Ini justru memperparah keadaan mereka.

 

Menurut Danardi, bila orang depresi sudah bersedia curhat, maka yang mendengarkan pun harus menjadi pendengar yang baik. Kalimat, seperti “apa yang bisa saya bantu untuk mu”, adalah kalimat awal yang sangat membantu penderita depresi. Cukup mendengarkan, tidak perlu memberi solusi. Ucapkan kata-kata positif atau dukungan, dan tidak menyalahkan atau menghakimi.

 

Lebih baik lagi bila pendengar memiliki keahlian atau ilmu untuk memberikan solusi. Mengubah cara pandang penderita tentang hidup dan apa yang dialami. Cara mengatasi depresi kembali kepada tiap individu. Ada orang mudah keluar dari depresi, tapi ada pula yang sulit.

 

Beberapa orang yang mampu beradaptasi dengan tekanan, kegagalan luar biasa, dan persoalan dalam hidup akan lebih mudah mengatasi depresi. Setelah mengalami tekanan beberapa waktu kemudian akan bangkit kembali. Tapi beberapa orang akan sulit untuk beradaptasi dengan tekanan yang dihadapinya. Di sinilah penting melibatkan orang lain, tidak bisa diabaikan dan didiamkan begitu saja.***